Kajian Tafsir Surat Yasin (Bag. 6)

Ayat Ke-8 Surat Yaasin

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ

Arti Kalimat : Sesungguhnya Kami jadikan di leher mereka ada belenggu (hingga tangan mereka terkumpul) di dagu, menyebabkan mereka tengadah (menghadap ke atas)

Allah permisalkan keadaan orang-orang kafir yang menentang dakwah Rasul tersebut bagaikan seseorang yang terbelenggu tangannya terikat bersama leher, menyebabkan wajahnya tengadah ke atas. Mereka tidak mau tunduk kepada kebenaran (keimanan), tidak mau menundukkan wajahnya ke bawah (disarikan dari Tafsir al-Jalalain).

Sesungguhnya kecerdasan akal akan tertutupi oleh perilaku dan perbuatan kekafiran/ kesyirikan. Hal itu bisa membutakan mata hati dan membelenggu seseorang dalam menerima kebenaran. Sebagaimana sebenarnya Ratu Saba’ adalah wanita cerdas, namun ia tumbuh dalam lingkungan kekafiran yang menyebabkan ia terbelenggu tidak segera mengenal dan menerima al-haq sejak dulu. Walaupun akhirnya kemudian beriman.

وَصَدَّهَا مَا كَانَتْ تَعْبُدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ كَافِرِينَ

Dan sesembahan-sesembahan lain selain Allah telah mencegahnya (untuk menerima al-haq), sesungguhnya ia dulunya termasuk kaum yang kafir (Q.S anNaml ayat 43)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan: …(Ratu Saba’) itu memiliki kecerdasan dan kepintaran dalam membedakan al-haq dengan al-batil, akan tetapi akidah-akidah yang batil melenyapkan penglihatan mata hati (Tafsir as-Sa’di surat anNaml ayat 43).

Dalam ayat ini dinyatakan bahwa tangan orang-orang kafir itu terbelenggu, menunjukkan mereka tertahan (bakhil) untuk berinfaq di jalan kebaikan. Sebagaimana dalam firman Allah yang lain, Allah melarang seseorang untuk bakhil dan digambarkan sebagai orang yang tangannya terbelenggu.

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

Dan janganlah engkau menjadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (bakhil), dan jangan pula membentangkan seluas-luasnya (boros- berlebihan dalam infaq), hingga akan menyebabkan engkau duduk tercela lagi lemah/letih (Q.S al-Israa’ ayat 29)

Sebagian qiro’at (bacaan) pada ayat ini adalah mengganti kata a’naaqihim menjadi aymaanihim. Ini adalah qiroah dari Ibnu Mas’ud sebagaimana dijelaskan dalam tafsir atThobary. Namun, an-Nuhhaas menyatakan bahwa itu adalah bacaan penafsiran, sehingga jangan dibaca sebagai qiroah tersendiri yang menyelisihi tulisan dalam mushaf (Tafsir al-Qurthubiy).

Ada sebuah kisah yang juga dinisbatkan sebagai Asbaabun Nuzul ayat-ayat pertama dalam surat Yaasin ini bahwa saat Nabi mengeraskan bacaan al-Quran di dalam masjid, sebagian orang kafir Quraisy merasa marah dan akan berbuat buruk kepada Nabi. Tapi tiba-tiba tangannya terkumpul pada leher dan ia tidak bisa melihat. Maka ia meminta belas kasihan kepada Nabi dan Nabi mendoakan agar ia terlepas dari kondisi itu. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Dalaailun Nubuwwah, namun riwayat itu lemah karena selain adanya perawi yang majhul (tidak ada yang mentsiqohkan kecuali Ibnu Hibban, yaitu Muhammad bin Abdillah al-Banna’) juga adanya perawi yang matruk (ditinggalkan), yaitu anNadhr al-Khozzaaz. Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

WA al-I’tishom

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s