Kajian Tafsir Surat Yasin (Bag. 10)

Ayat Ke-16 Surat Yaasin

قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ

Arti Kalimat: Mereka (para Rasul itu) berkata: Tuhan kami yang mengetahui bahwa sesungguhnya kami benar-benar diutus kepada kalian (sebagai Rasul)

Para Ulama’ Tafsir menjelaskan bahwa ucapan para Rasul ini dikuatkan dengan 3 penekanan (ta’kid), yaitu sumpah, kata Inna, dan lam taukid. Ucapan: Robbunaa ya’lamu itu menduduki kedudukan sumpah.

Para Rasul itu menyatakan bahwa mereka benar-benar utusan Allah, kalau seandainya mereka berdusta mengaku-ngaku sebagai utusan Allah padahal bukan, pasti Allah akan menghinakan mereka dan segera menimpakan adzab kepada mereka (disarikan dari Tafsir as-Sa’di).

Sebagaimana ketika orang-orang kafir Quraisy mendustakan bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah utusan Allah dan menganggap beliau mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, Allah memerintahkan kepada beliau untuk menyatakan: cukuplah Allah sebagai saksi bagi kita

…قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ كَفَى بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: Jika aku mengada-adakan kedustaan atas NamaNya, maka kalian tidak akan mampu melindungi aku dari adzab Allah sedikitpun. Dan Dia Paling Mengetahui tentang apa yang kalian ucapkan (tentang al-Quran). Cukuplah Dia sebagai saksi antara aku dan kalian, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang (Q.S al-Ahqoof ayat 8).

Allah juga menjelaskan bahwa jika Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, maka Allah akan segera mengadzab beliau dan tidak ada satupun pihak yang bisa menghalangi terlaksananya adzab Allah tersebut.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46) فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (47)

Kalau seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan kedustaan ucapan atas nama Kami, sungguh Kami akan mengambilnya dengan Tangan Kanan (dengan kuat), kemudian Kami putus urat jantungnya. Maka tidak ada seorangpun dari kalian yang bisa mencegahnya (Q.S al-Haaqqah ayat 44-47)

Ayat Ke-17 Surat Yaasin

وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Arti Kalimat: dan (para Rasul itu berkata) tidaklah ada (kewajiban) kami kecuali menyampaikan (risalah) dengan penyampaian yang jelas

Tugas para Rasul adalah menyampaikan ajaran dari Allah dengan penjelasan yang sangat jelas. Sebagaimana Rasul kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam telah memberikan penjelasan yang sangat gamblang kepada umat ini, saking jelasnya hingga diibaratkan ‘malamnya bagaikan siangnya’.

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

Aku telah tinggalkan untuk kalian (ajaran yang jelas) yang putih (bersinar), malamnya bagaikan siangnya. Tidaklah ada yang menyimpang sepeninggalku kecuali ia akan binasa (H.R Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Abi Ashim, dinyatakan bahwa sanadnya hasan oleh al-Mundziri, dan dishahihkan al-Albany).

Para Rasul itu tidak diharuskan untuk merubah isi hati manusia, karena hidayah taufiq mutlak hanya milik Allah. Karena itu, para Nabi dan Rasul itu tidak dianggap gagal dalam dakwah meski yang ikut hanya satu atau dua orang, bahkan tidak ada yang mengikuti dakwahnya sama sekali.

Sebagaimana dalam hadits dinyatakan bahwa ditampakkan kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam para Nabi dan Rasul serta pengikut mereka. Ada di antara Nabi itu yang pengikutnya hanya satu orang. Bahkan ada juga yang Nabi tidak ada pengikutnya sama sekali.

وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلَ وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

…dan (ditampakkan padaku) ada Nabi yang pengikutnya satu orang, dan ada Nabi yang tidak ada pengikutnya sama sekali (H.R Ahmad dengan sanad yang shahih, perawinya semuanya rijal al-Bukhari)

Sehingga, sebagai penerus dakwah para Nabi kita harus menyadari bahwa keberhasilan dakwah bukanlah dinilai dengan banyaknya pengikut. Namun, yang dinilai Allah adalah apakah ajaran yang wajib disampaikan telah tersampaikan secara jelas dengan cara yang sesuai dengan Sunnah Nabi. Jangan sampai seorang dai tidak menyampaikan dakwah secara jelas tapi dia menutupi hal-hal prinsip agama yang seharusnya disampaikan sehingga menjadi samar tidak jelas lagi.

(Abu Utsman Kharisman)

WA al-I’tishom

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s