Kajian Tafsir Surat Yasin (Bag. 16)

Ayat Ke-33 Surat Yaasin

وَآَيَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

Dan (di antara) tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah bumi (yang sebelumnya) mati, Kami hidupkan dan Kami keluarkan darinya biji-bijian yang darinya mereka makan

Salah satu tanda kekuasaan Allah dalam membangkitkan seluruh manusia yang telah meninggal sejak dulu hingga nanti menjelang hari kiamat adalah: tanah yang sebelumnya kering, tanamannya mati, ketika diturunkan hujan, Allah berikan kehidupan lagi. Maka Allah Yang Maha Mampu menghidupkan hal itu, juga Maha Mampu untuk membangkitkan semua manusia yang telah mati untuk dikumpulkan di padang Mahsyar.

Seperti dalam firman Allah:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)Nya adalah bahwa kau lihat bumi kering, ketika Kami turunkan kepadanya air (hujan) niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya, pastilah mampu menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S Fushshilat ayat 39) (disarikan dari tafsir Yaasin libni Utsaimin hal 118).

Setelah bumi/ tanah itu hidup, Allah tumbuhkan tanam-tanaman. Di antara tanaman-tanaman itu ada yang tumbuh dari biji-bijian yang menjadi sumber makanan manusia, seperti biji gandum menjadi roti dan padi menjadi nasi.

Karena itu Allah menyatakan: fa minhu ya’kuluun (kemudian darinyalah kalian makan). Potongan kalimat ini memberikan makna pembatasan, seakan-akan menyatakan: hanya darinyalah kalian makan. Di dalam hal ini terkandung faidah begitu butuhnya seorang hamba kepada Rabb-Nya. Seakan-akan itu tantangan dari Allah: jika kalian mampu, silakan keluarkan sendiri dari tanah sumber makanan kalian. Sesungguhnya kalian tidak mampu makan kecuali dari sumber makanan yang Kami keluarkan dari tanah (disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin hal 124).

Ayat Ke-34 Surat Yaasin

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ

Arti Kalimat: dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air

Jika pada ayat sebelumnya Allah sebutkan ditumbuhkannya biji-bijian (habban) yang harus diolah sebelum dimakan, maka pada ayat ini Allah ingatkan juga nikmatNya dengan ditumbuhkannya tanaman-tanaman buah yang hasilnya langsung bisa dinikmati tanpa proses olahan lagi, seperti kurma dan anggur.

Selain itu, Allah juga pancarkan mata air untuk kehidupan manusia. Dalam hal ini terdapat tanda kekuasaan Allah Yang Maha mampu memancarkan air dari sesuatu yang asalnya mati dan keras seperti tanah tandus atau bebatuan. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ

Dan di antara bebatuan itu adalah yang memancar darinya sungai, dan di antara bebatuan itu ada yang terbelah hingga keluarlah darinya air (Q.S al-Baqoroh ayat 74).

Nabi Musa juga memukul batu atas perintah Allah sehingga batu itu memancarkan 12 mata air yang bisa diminum oleh 12 kabilah kaumnya (Bani Israil).

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا

Dan ketika Musa beristisqo’ (meminta diturunkan air) untuk kaumnya, maka Kami katakan: pukullah batu dengan tongkatmu. Kemudian memancarlah darinya 12 mata air (Q.S al-Baqoroh ayat 60) (disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin hal 125).

Dalam ayat ini terkandung juga faidah bahwa tanaman kurma dan anggur sangat membutuhkan air. Hasil produksi buahnya tergantung kadar air yang bisa diserapnya (disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin hal 125).

Ayat Ke-35 Surat Yaasin 

لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

Arti Kalimat: Agar mereka memakan buahnya dan yang diperbuat oleh tangan mereka. Tidakkah mereka bersyukur?

Para Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan maa dalam kalimat wa maa amilathu aydiihim.

Sebagian Ulama mengartikan maa di sini sebagai mawshuulah yang diartikan “yang”. Sehingga artinya adalah: Agar mereka memakan buahnya (secara langsung) dan yang mereka perbuat dengan tangan mereka.

Maksudnya, Allah memberikan nikmat berupa buah yang langsung bisa dikonsumsi seperti kurma, dan bisa juga kalian olah lebih lanjut, misalkan dibuat sirup atau manisan, dan semisalnya. Syaikh Ibn Utsaimin cenderung pada pendapat maa pada ayat ini adalah mawshuulah karena mencakup makna yang lebih luas.

Allah mengingatkan mereka agar mensyukuri nikmat tersebut dengan menyatakan: tidakkah kalian bersyukur?

Seseorang dikatakan bersyukur jika ia melakukan 4 hal:

1. Mengakui nikmat tersebut. Ia mengakui bahwa itu adalah nikmat dari Allah, tidak didapatkannya berkat keahliannya, namun karena pertolongan dan pemberian Allah.

2. Memuji Allah.

Sahabat Nabi Ibnu Abbas menyatakan: “Ucapan Alhamdulillah adalah kalimat yang diucapkan oleh seluruh orang yang bersyukur” (Tafsir Ibnu Katsir (1/128)).

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah sungguh ridha kepada seorang hamba yang makan suatu makanan kemudian memuji Allah atasnya, atau meminum suatu minuman kemudian memuji Allah atasnya (H.R Muslim no 4915)

3. Tunduk dan mencintai Allah.

4. Menjalankan ketaatan kepada Allah sebagai perwujudan syukur. Ia gunakan nikmat pemberian Allah untuk mentaatiNya, tidak untuk bermaksiat kepadaNya.
(disarikan dari Madaarijus Saalikin karya Ibnul Qoyyim (2/247)).

Dalam firman Allah: li ya’kuluu min tsamarihi (agar mereka memakan buahnya), terkandung faidah bantahan terhadap kaum Jabriyyah yang menafikan illat atau hikmah dalam perbuatan Allah.

Sesungguhnya setiap perbuatan dan penciptaan Allah mengandung hikmah.

Ada banyak dalil tentang hal itu dalam al-Quran. Sebagian dalil tersebut menunjukkan secara tegas, adanya hikmah. Seperti dalam ayat:

حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ

Itulah hikmah yang sempurna. Maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka)(Q.S al-Qomar ayat 5)

Ada juga yang Allah sebutkan dalam bentuk peniadaan terhadap lawan dari hikmah, yaitu main-main atau kesia-siaan. Seperti Allah sebutkan bahwa penciptaan langit dan bumi :

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلا

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi sia-sia… (Q.S Shaad ayat 27)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya main-main…(Q.S ad-Dukhoon ayat 38) (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam tafsir Yaasin hal 126).

(Abu Utsman Kharisman)

WA al-I’tishom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s