Kajian Tafsir Surat Yasin (Bag. 17)

Ayat Ke-36 Surat Yaasin

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

Arti Kalimat:
Maha Suci (Allah) Yang menciptakan (makhluk) bermacam-macam seluruhnya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui

Al-Azwaaj dalam ayat ini dijelaskan oleh para Ulama’ maknanya adalah bermacam-macam atau berjenis-jenis. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir atThobary, al-Baghowy, al-Jalalain, dan as-Sa’di.

Hanya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala saja yang Tunggal. Semua makhluk lain pasti berbilang jumlahnya. Demikian juga jenisnya, ada laki-laki ada wanita. Termasuk pada sifat yang abstrak seperti senang dan benci, kuat dan lemah, dan sebagainya.

Tidak ada yang tunggal kecuali Allah. Para makhluk terdiri dari jenis yang bermacam-macam. Satu macam makhluk hidup saja bisa memiliki jenis yang banyak. Sebagai contoh: tumbuhan kurma dipercayai memiliki sekitar 1400 spesies. Binatang kecoa memiliki 3500 spesies. Kucing saja memiliki tidak kurang dari 14 spesies seperti Angora, Persia, dan lain sebagainya. 

Manusia saja bisa bermacam-macam ras, bentuk, dan keadaannya. Ada yang berkulit putih, hitam, sawo matang, kuning. Ada yang berambut lurus, ikal, keriting. Ada yang tinggi ada yang pendek. Ada yang cerdas, ada yang tidak.

Dalam ayat ini juga terkandung dalil terbatasnya pengetahuan manusia. Ada banyak macam hal-hal yang tidak diketahuinya. Karena itu di penggalan kalimat terakhir Allah menyatakan: maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.   

Ayat Ke-37 Surat Yaasin

وَآَيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

Arti Kalimat: dan (salah satu) tanda (kemahakuasaan Allah) bagi mereka adalah malam yang dengannya Kami menguliti siang, hingga mereka dalam kegelapan

Allah sebutkan dalam ayat ini bahwa Dia ‘menguliti’ siang, hingga akibatnya datanglah malam dengan kegelapannya. Menggunakan kata ‘naslakhu’ yang artinya “Kami menguliti”, menunjukkan proses itu tidak terjadi secara sekaligus, tapi berangsur-angsur. Seperti ketika manusia menguliti binatang sesembelihannya. Terlepasnya kulit dari binatang itu terjadi sedikit demi sedikit tidak sekaligus.

Padanya terdapat hikmah yang luar biasa ketika kegelapan malam datang secara bertahap tidak sekaligus, menyebabkan proses adaptasi yang sempurna terhadap penglihatan manusia, kehidupan tanaman, dan semisalnya.

Dalam ayat ini Allah ingatkan salah satu nikmat-Nya kepada para makhluk dengan adanya siang. Ketika datang malam, muncullah kegelapan bagi mereka. Nikmatnya terang akan dirasakan oleh orang yang pernah merasakan gelap. Dan pada saat gelap, timbul maslahat yang lain, munculnya ketenangan, membuat manusia nyaman beristirahat.

Hanya Allah sajalah yang mampu mempergantikan siang dan malam, kegelapan dan terang itu. Bagaimana jika seandainya Allah tetapkan malam terus menerus hingga hari kiamat, niscaya itu akan sangat memberatkan makhluk. Atau sebaliknya, siang terus menerus hingga hari kiamat, tentu akan banyak mudharat didapatkan.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلَا تَسْمَعُونَ (71) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (72)

Katakanlah: Bagaimana pendapat kalian jika Allah menjadikan bagi kalian malam terus menerus hingga hari kiamat. Siapakah sesembahan selain Allah yang bisa mendatangkan cahaya untuk kalian? Tidakkah kalian mendengar? (71) Katakanlah: Bagaimana pendapat kalian jika Allah menjadikan untuk kalian siang terus menerus hingga hari kiamat, siapakah sesembahan selain Allah yang bisa mendatangkan malam kepada kalian sehingga kalian bisa tenang dengannya. Tidakkah kalian melihat ? (72)(Q.S al-Qoshosh ayat 71-72)
(disarikan dari Tafsir Yasin libni Utsaimin hal 133-135)

Ayat Ke-38 Surat Yaasin

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Arti Kalimat: dan matahari berjalan menuju tempat menetapnya. Yang demikian itu adalah takdir (ketetapan) dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui

Matahari berjalan menuju tempat menetapnya (mustaqor) saat ia terbenam. Di manakah ‘tempat menetap’ bagi matahari? Dijelaskan dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari bahwa tempat menetapnya adalah di bawah ‘Arsy.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي ذَرٍّ حِينَ غَرَبَتْ الشَّمْسُ أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَسْتَأْذِنَ فَيُؤْذَنُ لَهَا وَيُوشِكُ أَنْ تَسْجُدَ فَلَا يُقْبَلَ مِنْهَا وَتَسْتَأْذِنَ فَلَا يُؤْذَنَ لَهَا يُقَالُ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَطْلُعُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى { وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ }

Dari Abu Dzar –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam: Tahukah engkau ke mana perginya (matahari)? Aku (Abu Dzar) berkata: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Nabi menyatakan: Sesungguhnya ia pergi hingga sujud di bawah ‘Arsy kemudian meminta idzin (kepada Allah) dan diidzinkan untuknya. Dan hampir saja (saat hari kiamat) saat ia sujud tidak diterima dan ketika ia meminta izin tidak diizinkan, dikatakan kepadanya: kembalilah ke tempat engkau datang. Maka ia terbit dari arah barat. Demikianlah firman Allah Ta’ala: <> (Q.S Yaasin ayat 38 >> (H.R al-Bukhari).

Jadi, dijelaskan dalam al-Quran bahwa matahari berjalan dari timur ke barat. Itu terjadi setiap hari. Ia kembali ke tempat menetapnya, di bawah ‘Arsy saat ia terbenam. Sebelumnya ia meminta izin kepada Allah dan diizinkan. Demikian berlangsung setiap hari, kemudian ia terbit dari arah sebelumnya (timur). Kecuali pada hari kiamat, Allah tidak izinkan matahari terbit dari arah timur, maka ia terbit dari arah barat.

Sesungguhnya matahari berjalan dengan cepat. Namun karena jarak bumi dengan matahari yang demikian jauhnya, seakan-akan perjalanan itu lambat. Seperti saat kita melihat pesawat terbang di udara, kita melihatnya seakan-akan kecepatannya biasa atau lambat. Padahal bagi yang mengemudikannya akan tahu bahwa kecepatannya luar biasa. Hanya saja terlihat dari permukaan bumi kecepatannya tidak seperti kecepatan yang semestinya karena jauhnya jarak.

Allah menyebutkan dalam ayat ini bahwa peredaran matahari itu telah diatur oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Tidak ada satu pihakpun selain Allah yang mampu melakukannya. Kemahaperkasaan Allah itu menyebabkan tidak ada satupun pihak lain yang bisa mengubah pengaturan itu, atau menghambat dan menghalanginya sehingga tidak tepat waktu. Atau bahkan merubah arah berjalannya matahari sehingga bukan dari Timur ke Barat tapi dari Barat ke Timur. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menantang raja yang kafir lagi sombong: bisakah engkau merubah arah perjalanan matahari menjadi dari barat? Maka raja itupun terdiam. Padahal sebelumnya ia merasa bangga seakan-akan dia punya kemampuan seperti Tuhan karena mampu menghidupkan dan mematikan. Ia mampu memberi maaf seseorang yang divonis mendapat hukuman mati, itu dianggap menghidupkan, dan ia bisa membunuh seseorang yang lain atas perintahnya, yang itu dianggap mematikan. Tapi giliran merubah arah perjalanan matahari, ia tidak bisa menjawab apa-apa, terdiam dalam kehinaannya.
  
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آَتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Tidakkah engkau melihat kepada orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya, yang Allah beri kepada orang itu kekuasaan, ketika Ibrahim berkata: Tuhanku adalah yang Menghidupkan dan Mematikan. Orang itu berkata: Aku (juga bisa) menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata: Sesungguhnya Allah mendatangkan matahari dari Timur, maka datangkanlah dari Barat. Maka terdiamlah orang kafir tersebut. Dan Allah tidaklah memberi petunjuk kepada kaum yang dzhalim (Q.S al-Baqoroh ayat 258).

Peredaran matahari itu telah diatur oleh Yang Maha mengetahui, sehingga benar-benar tepat presisi ukuran, jarak, arah pada dzat, gerakan, atau pancaran sinar matahari. Sehingga pergerakan itu benar-benar memberikan maslahat bagi para makhluk.

(Abu Utsman Kharisman)

WA al-I’tishom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s