Kajian Tafsir Surat Yasin (Bag. 20)

Ayat Ke-45 dan 46 Surat Yaasin

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (45) مَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آَيَةٍ مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ (46)

Arti Kalimat: dan jika dikatakan kepada mereka: takutlah kalian (terhadap adzab) yang ada di hadapan kalian (akhirat) dan yang ada di belakang kalian (dunia) agar kalian mendapatkan rahmat  (45) Tidaklah datang kepada mereka ayat dari Tuhan mereka kecuali mereka berpaling (46)

Ayat ini menjelaskan tentang keadaan kaum musyrikin yang tetap berada dalam kesesatan  dan tidak perhatian terhadap dosa mereka di masa lalu dan terhadap hari kiamat yang akan terjadi di masa mendatang. Jika dikatakan kepada mereka: bertakwalah kalian kepada Allah, takutlah terhadap dosa yang dulu kalian lakukan (wa maa kholfakum) dan kejadian besar (hari kiamat) yang akan terjadi di masa mendatang (bayna aydiikum) (Disarikan dari Tafsir Ibn Katsir)

Setiap datang ayat dari Allah baik kauniyyah maupun syar’iyyah, mereka sombong, tidak menerima, dan berpaling.

Sesungguhnya ayat Allah terbagi dua:

Pertama: kauniyyah, tanda-tanda kemahakuasaan Allah yang nampak di alam semesta.

Kedua: syar’iyyah, yaitu khabar atau berita yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul. Seperti yang tersebut dalam Kitab-Kitab Allah atau hadits Rasul.

Terhadap ayat kauniyyah, orang-orang kafir tersebut berpaling, tidak mau memperhatikan dan memikirkannya. Terjadinya fenomena alam yang menunjukkan kekuasaan Allah tidak menjadikan mereka semakin takut kepada Allah.

Kalau terjadi gerhana, mereka akan menganggap itu sebagai fenomena alam biasa. Padahal Nabi sangat takut ketika terjadi gerhana, dan gerhana adalah salah satu tanda kemahakuasaan Allah untuk membuat hamba-hambaNya takut kepadaNya.

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّي بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِي صَلَاةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذِهِ الْآيَاتِ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Dari Abu Musa –radhiyallahu anhu- beliau berkata: terjadi gerhana matahari di zaman Nabi shollallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bangkit dalam keadaan takut. Khawatir akan terjadi hari kiamat. Hingga beliau mendatangi masjid, bangkit sholat dengan memperpanjang berdiri, ruku’, sujud. Tidak pernah aku melihat seperti itu dalam sholat beliau sebelumnya. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya ini adalah ayat-ayat yang Allah kirim, bukan karena kematian atau kehidupan seseorang. Akan tetapi Allah kirim ayat-ayat ini untuk membuat takut para hambaNya. Jika kalian melihatnya, bersegeralah menuju dzikir kepadaNya, berdoa, dan beristighfar (H.R Muslim).

Tapi bagi orang yang tidak beriman, hal itu seperti fenomena biasa. Seperti juga yang diucapkan oleh orang-orang kafir ketika melihat awan yang akan menurunkan adzab, mereka menganggap itu hanyalah awan biasa yang akan menurunkan hujan sebagaimana biasanya:

وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا يَقُولُوا سَحَابٌ مَرْكُومٌ

Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan: itu adalah awan yang bertindih-tindih (Q.S atThuur ayat 44).

Demikian juga ketika terjadi berbagai bencana alam seperti gempa, banjir, angin kencang yang menghancurkan, mereka menganggap itu hanya sebagai kejadian alam biasa. Tidak menjadikan mereka tersadar, takut dan bertaubat atas dosa-dosanya, kembali kepada Allah. Itu menunjukkan kerasnya hati, bahkan matinya hati.
Terhadap ayat-ayat syar’iyyah yang disampaikan para Nabi dan Rasul, mereka mendustakan khabar, dan sombong tidak mau menerima hukum dari ayat tersebut. Mereka menganggap ayat-ayat al-Quran dusta, atau sihir, atau syair gubahan manusia.
(Disarikan dengan penyesuaian, dari penjelasan Tafsir Surat Yaasin libni Utsaimin halaman 163-164).

Ayat Ke-47 Surat Yaasin

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Arti Kalimat: Jika dikatakan kepada mereka: berinfaklah dari (harta) yang Allah rezekikan kepada kalian, orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang beriman: Apakah kami akan memberi makan orang yang jika Allah kehendaki, Allah akan memberi makan kepadanya? Tidaklah kalian kecuali berada dalam kesesatan yang nyata

Jika orang beriman mengajak kepada orang-orang kafir yang berharta agar berinfak memberikan sebagian harta pemberian Allah, orang kafir itu akan membantah dengan mengatakan: Untuk apa kami beri makan mereka. Toh kalau Allah kehendaki, Dia Yang akan memberi makan kepada mereka?! Orang kafir tersebut mengucapkan kalimat yang mengandung kebenaran, namun tujuannya adalah batil. Sekedar lari dari kewajiban untuk berbuat baik kepada hamba Allah.

Allah menyebut dalam ayat ini: “berinfaklah dari (harta) kalian yang Allah rezekikan kepada kalian”, tidak menyatakan: “berinfaklah dari harta kalian”, untuk mengingatkan manusia bahwa harta mereka adalah pemberian Allah. Maka berinfaklah sesuai perintah Allah yang telah memberi rezeki kepada kalian. Sesungguhnya Yang memerintahkan kepada kalian untuk berinfak adalah Yang memberikan rezeki kepada kalian. Hal ini juga memberikan faidah kepada kita bahwa sesungguhnya seseorang yang berinfak, ia tidaklah memberikan manfaat bagi Allah, karena harta yang diinfakkannya adalah harta pemberian Allah.

Ada 3 kemungkinan alasan orang kafir dalam menolak untuk memberikan infaq seperti yang tersebut dalam ayat tersebut:

Pertama, ejekan atau cemoohan.

Kedua, beralasan dengan takdir.

Seperti ucapan orang-orang musyrikin yang beralasan dengan takdir, yang juga dibantah oleh Allah dalam ayat yang sama:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آَبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

Orang-orang yang berbuat kesyirikan akan berkata: Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukanNya dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu apapun. Demikianlah pula orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: Adakah kalian mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat mengemukakannya kepada Kami? Kalian tidaklah mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanyalah berdusta (Q.S al-An’aam ayat 148).

Orang yang beralasan dengan takdir setelah mengerjakan kemaksiatan dan tidak mau bertaubat, sesungguhnya ia mengikuti perilaku orang-orang musyrik. Allah cela mereka dalam surat al-An’aam ayat 148 itu bahwa mereka pendusta dan sekedar mengikuti persangkaan (dzhan) saja.

Ketiga, memprotes takdir. Seakan-akan orang kafir itu menyatakan: kalau mau menyalahkan, salahkan Allah. Dialah yang menakdirkan orang miskin itu tidak dapat makan. Kalau Dia menghendaki, niscaya Dialah Yang akan memberikan makan.

Di dalam ayat ini juga terkandung faidah bahwa bakhil adalah sifat orang-orang kafir. Tidak sepantasnya kaum beriman memiliki sifat tersebut.

Pelajaran lain yang bisa diambil dari ayat ini pula adalah bahwa orang-orang musyrikin tersebut meyakini akan kehendak Allah yang pasti akan terlaksana. Tidaklah sesuatu terjadi di muka bumi kecuali atas kehendak Allah. Mereka meyakini Rububiyyah Allah. Hanya saja mereka tidak mau tunduk taat kepada perintah-perintah Allah, yaitu beribadah hanya kepadaNya semata.

Sejak jaman dulu hingga sekarang, dan terus akan demikian hingga hari kiamat, orang-orang kafir itu akan selalu mencerca, mencemooh dan memberi gelaran-gelaran yang buruk bagi kaum beriman. Seperti ucapan mereka dalam ayat ini kepada orang beriman: Tidaklah kalian kecuali berada dalam kesesatan yang nyata.

Selalu saja mereka menimbulkan gangguan bagi kaum beriman. Namun, gangguan itu tidaklah memudharatkan kaum beriman yang tetap konsisten dalam menjalankan perintah Allah.

لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى

Mereka tidak akan bisa memudharatkan kalian, kecuali sekedar gangguan (Q.S Ali Imran ayat 111).

(Disarikan dengan penyesuaian, dari Tafsir Surat Yasin libni Utsaimin halaman 165-172).

(Abu Utsman Kharisman)

WA al-I’tishom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s