Kajian Tafsir Surat Yasin (Bag. 22)

Ayat Ke-51 Surat Yaasin

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

Arti Kalimat: dan ditiupkanlah sangkakala, maka seketika itu mereka (bangkit) dari kubur berjalan cepat menuju Rabb mereka

As-Shuur yang disebut dalam ayat tersebut seringkali diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai ‘sangkakala’. Yaitu alat tiup semacam terompet yang terbuat dari cangkang kerang atau tanduk hewan yang biasa ditiup untuk pemberitahuan peristiwa-peristiwa penting di masa dulu seperti kejadian perang, dan semisalnya. Namun yang dimaksud dalam ayat ini –sebagaimana penjelasan para Ulama- adalah sangkakala yang ditiup sebagai pertanda datangnya hari kiamat. Kita tidak mengetahui seperti apa bentuk sangkakala itu.

Pada ayat ini disebutkan bahwa ‘sangkakala ditiup’ tanpa menyebutkan siapa yang meniupnya. Seringkali kalimat-kalimat dalam al-Quran menggunakan bentuk pasif yang tidak menunjukkan siapa pelaku perbuatannya. Hal itu memberikan pengaruh yang lebih kuat dalam membangkitkan perasaan yang diisyaratkan oleh ayat tersebut. Seperti pada ayat ini, tidak disebutkannya siapa pelaku yang meniup sangkakala itu untuk memberikan pengaruh lebih kuat munculnya perasaan takut pada diri pembaca.

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan bahwa beliau tidak mengetahui adanya hadits yang shahih yang memastikan penyebutan nama Malaikat yang meniup sangkakala itu. Namun yang masyhur dan dirajihkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya adalah Malaikat Israfil (syarh Sunan Abi Dawud li Abdil Muhsin al-Abbad)

Para Ulama berbeda pendapat tentang berapa kali tiupan sangkakala itu dalam proses terjadinya hari kiamat. Sebagian berpendapat 3 kali. Sebagian menyatakan 2 kali. Syaikh Ibn Utsaimin merajihkan pendapat yang dua kali. Tiupan pertama adalah menimbulkan ketakutan dan keterkejutan luar biasa sekaligus tak sadarkan diri. Sedangkan tiupan kedua adalah tiupan kebangkitan, manusia bangkit dari kuburnya. Pendapat ini juga yang secara dzhahir dipilih dalam Tafsir Jalalain.

Al-Ajdaats maknanya adalah kubur. Manusia bangkit dari kuburnya setelah mendengar tiupan sangkakala yang kedua. Yansiluun artinya adalah berjalan dengan cepat. Manusia bangkit dari kubur dan berjalan dengan cepat menuju Allah. 

Ayat Ke-52 Surat Yaasin

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

Arti Kalimat: Mereka (manusia) berkata: Duhai celaka kami, siapa yang membangunkan dari tempat tidur kami. Ini adalah (waktu) yang dijanjikan arRahmaan (Allah) dan benarlah (yang disampaikan) para Rasul

Manusia dibangkitkan dari kubur mereka, seakan-akan mereka dibangkitkan dari ‘tidur’nya. Jika ia adalah orang yang beriman, ada yang mendapatkan kenikmatan di alam barzakh, ruh mereka berkeliaran di taman-taman Jannah (Surga). Seperti para syuhada’ yang meninggal berjihad di jalan Allah. Ada juga yang tidur dengan nyaman bagaikan tidurnya pengantin.

ثُمَّ يَأْمُرَانِ الأَرْضَ فَتَنْفَسحُ لَهُ سَبْعِينَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُنَوَّرُ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَيَقُولاَنِ لَهُ : نَمْ فَيَقُولُ : دَعُونِي أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ فَيَقُولاَنِ لَهُ : نَمْ نَوْمَةَ الْعَرُوسِ الَّذِي لاَ يُوقِظُهُ إِلاَّ أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ

Kemudian kedua Malaikat itu memerintahkan bumi sehingga menjadi bertambah luas (untuk orang mukmin). Diluaskan 70 hasta kali 70 hasta. Diterangi di kuburnya. Kemudian dikatakan kepada orang mukmin itu: tidurlah. Orang tersebut berkata: Biarkan aku kembali ke keluargaku untuk mengkhabarkan (keadaanku) kepada mereka. Kedua Malaikat itu berkata: Tidurlah seperti tidurnya pengantin, yang tidak membangunkannya kecuali anggota keluarga yang paling dicintainya (H.R Abu Dawud atThoyalisiy, Musaddad, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Bushiry).

Bagaimana dengan orang-orang kafir, musyrik, munafik, kaum fasiq? Apakah di kubur mereka tidur nyenyak sehingga bisa istirahat? Bukankah mereka diadzab di kuburnya?

Benar. Mereka mendapatkan adzab di kuburnya. Untuk orang kafir, musyrik, dan munafik akbar mereka akan terus diadzab di kuburnya hingga dibangkitkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ

Terus menerus mereka diadzab hingga Allah bangkitkan dari pembaringannya itu (H.R atTirmidzi)

Tapi adzab kubur, dibandingkan adzab nanti setelahnya yang akan mereka dapatkan setelah hari kiamat, adalah jauh lebih ringan. Sehingga diibaratkan mereka di kuburnya ‘tidur’, untuk dibangunkan nanti mendapatkan adzab yang lebih dahsyat. Seperti yang Allah ceritakan tentang pengikut Fir’aun yang diadzab dan ditampakkan kedudukan mereka di anNaar nanti setiap hari dua kali di alam barzakh, dan mereka akan mendapatkan adzab yang lebih dahsyat nanti setelah datang hari kiamat :

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

anNaar ditunjukkan kepada mereka pada pagi dan petang. Dan pada hari kiamat, masukkanlah pengikut Fir’aun pada adzab yang lebih dahsyat (Q.S Ghofir ayat 46)

Pada saat dibangkitkan itu orang-orang kafir menunjukkan ungkapan penyesalan yang sangat: duhai celaka kami.

al-Imam al-Baghowy menjelaskan bahwa orang-orang kafir itu mengakui bahwa masa dibangkitkan mereka dari kubur itu adalah benar-benar sesuai yang disampaikan para Rasul dan dijanjikan Allah. Mereka baru benar-benar mengakui kebenaran itu saat sudah tidak bermanfaat lagi pengakuan mereka.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak akan pernah menyelisihi janjinya. Sesungguhnya seseorang yang berjanji kemudian tidak bisa menepatinya, bisa jadi karena dua hal yaitu karena dia berdusta atau karena kelemahan dia (ingin berusaha menepati, tapi apa daya tak kuasa). Dua hal ini (dusta dan kelemahan) tidak ada pada Allah. Tidak ada yang lebih jujur dari ucapan Allah dan tidak ada yang lebih kuat dari Allah. Jika Allah menghendaki sesuatu tiada satu pihakpun yang bisa menghalangi. Ayat ini juga menunjukkan bahwa para Rasul telah benar-benar amanah dalam menyampaikan risalah. Mereka jujur dalam mengkhabarkan wahyu dari Allah. (Tafsir Yasin libni Utsaimin halaman 189)

Ayat Ke-53 Surat Yaasin

إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

Arti Kalimat : Itu hanyalah satu teriakan (suara keras) saja, maka seketika mereka seluruhnya dikumpulkan bersama di sisi Kami.

Ayat ini menjelaskan kemahakuasaan Allah. Satu kali tiupan sangkakala (suara keras), seketika seluruh makhluk sejak awal mula diciptakan di muka bumi hingga datangnya hari kiamat, akan dikumpulkan menghadap Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Salah satu faidah yang bisa diambil dari ayat ini adalah bahwa Allah jika memerintahkan sesuatu, tidak perlu pengulangan. Cukup satu kali perintah, hal itu akan terjadi. Berbeda dengan para makhluk yang lemah, meski mereka punya kekuasaan memerintah, tapi seringkali perintah itu harus berulang, baru bisa terlaksana. Seringkali juga tidak terlaksana meski berulang-ulang diperintahkan.

Hal ini semakna dengan ayat lain dalam al-Quran:

وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

Dan tidaklah perintah Kami kecuali (hanya) sekali, bagaikan kerdipan mata (Q.S al-Qomar ayat 50).

(Disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin halaman 191)

(Abu Utsman Kharisman)

WA al-I’tishom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s