Menakjubkan urusan yang menimpa seorang mu’min

Renungi dan hayati sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Menakjubkan urusan yang menimpa seorang mukmin. Sungguh, semua urusannya membawa kebaikan untuknya. Tidak ada seorang pun yang bisa seperti itu selain seorang mukmin. Jika kegembiraan menimpa dirinya, ia bersyukur. Sikap syukurnya ini membawa kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia pun bersabar. Sikap sabarnya ini pun membawa kebaikan untuknya.” (HR. Muslim no. 64)

“Inilah keadaan seorang mukmin,” kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau menambahkan :

“Setiap manusia tidak lepas dari qadha (ketentuan) dan takdir Allah yang mencakup dua perkara : Senang atau susah. Oleh karena itu, manusia terbagi menjadi dua macam: Mukmin dan bukan mukmin.

Seorang mukmin menganggap segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah baginya, sehingga hal ini baik baginya. Ketika kesusahan menimpanya, lantas dia bersabar atas takdir-Nya seraya menanti disirnakannya impitan hidup oleh Allah dengan mengharap pahala dari-Nya, hal ini membawa kebaikan baginya. Dia berharap mendapat pahala karena tergolong orang-orang yang bersabar.

Jika dirinya memperoleh kesenangan dalam bentuk nikmat beragama—seperti memiliki ilmu (syariat) dan beramal saleh—dan memperoleh nikmat dunia—seperti harta, anak, dan keluarga—lantas dia bersyukur kepada-Nya dengan menjalankan ketaatan {*} , sikap syukur ini akan mendatangkan kebaikan untuknya. Jadilah ia memperoleh dua macam kenikmatan, yaitu nikmat beragama dan nikmat dunia. Nikmat dunia berbentuk kesenangan, sedangkan nikmat beragama berbentuk syukur. Inilah potret seorang mukmin.

__________________________

{*} Karena bersyukur itu tidak semata mengucapkan, “Saya bersyukur kepada Allah.” Akan tetapi, harus ada pengamalan ketaatan kepada-Nya.

(Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/79)

Sumber : http://www.asysyaroah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s