Shalat seperti burung yang mematuk

Satu lagi, gelagat aneh yang datang dari pondok pesantren Nahdatul Ulama dengan nama Mambaul Hikam Blitar.

Shalat super kilat yang bisa dipastikan tidak sah secara syar’i merupakan tradisi yang tak bisa dirubah. Begitulah pengakuan sang kiyai pengasuh pondok pesantren tersebut.

Bagaimana menurut Islam shalat model seperti itu, mari kita simak…

Dari Abu Abdillah al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, beliau berkata;

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  رَأَى رَجُلاً لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُوْدِهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍٍ يَنْقُرُ صَلاَتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ مَثَلُ الَّذِيْ لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَيَنْقُرُ فِيْ سُجُوْدِهِ مِثْلُ اْلجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ

“Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan rukuknya, dan waktu sujud (dilakukan cepat seakan-akan) mematuk dalam keadaan dia shalat.

Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti itu, ia mati di luar agama Muhammad. Ia sujud seperti burung gagak mematuk makanan. Perumpamaan orang rukuk tidak sempurna dan sujudnya cepat seperti orang kelaparan makan sebiji atau dua biji kurma yang tidak mengenyangkannya.”

(H.R Abu Ya’la, al-Baihaqi, at-Thabarani, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata;

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَانِيْ خَلِيْلِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ أَنْقُرَ فِيْ صَلاَتِيْ نَقْرَ الدِّيْكِ وَأَنْ أَلْتَفِتَ إِلْتِفَاتَ الثَّعْلَبِ وَ أَنْ أُقْعِيَ إِقْعَاءَ الْقِرْدِ

“Sahabat dekatku, (Nabi Muhamamd shallallahu ‘alaihi wa sallam) melarangku sujud dalam shalat (dengan cepat) seperti mematuknya ayam jantan, melarangku berpaling (ke kanan atau ke kiri) seperti berpalingnya musang, dan melarangku duduk iq-aa’ seperti kera.”

(H.R Thayalisi, Ahmad, dan Ibnu Abi Syaibah, dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Dalam hadits lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِيْ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا

“Seburuk-buruk pencuri adalah seseorang yang mencuri dari shalatnya.”

Para Sahabat bertanya:

“Bagaimana seseorang bisa mencuri dari sholatnya?”

Rasulullah menjawab:

“Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”

(H.R Ahmad dan At-Thabarany, al-Haitsamy menyatakan bahwa para perawi hadits ini adalah perawi-perawi hadits shahih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

Bahkan, tergesa-gesa dalam melakukan shalat sehingga gerakan-gerakan rukuk dan sujud tidak dikerjakan secara thuma’ninah bisa berakibat pada tidak sahnya shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ اْلمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلاَثًا فَقَالَ وَالَّذِيْ بَعَثَكَ بِاْلحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِيْ فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, kemudian masuk pula seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu melakukan shalat kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab salam tersebut kemudian mengatakan kepadanya:

“Kembalilah ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”

Maka kemudian laki-laki itu mengulangi shalat sebagaimana shalatnya sebelumnya, kemudian ia mendatangi Nabi dan mengucapkan salam, kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

“Kembali ulangilah shalatmu karena engkau belum shalat.”

(Hal ini berulang 3 kali).

Maka kemudian laki-laki itu mengatakan:

“Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan lebih baik dari shalatku tadi, maka ajarilah aku.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika engkau berdiri untuk shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al-Qur’an, kemudian rukuklah sampai engkau thuma’ninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah dari rukuk sampai engkau thuma’ninah beri’tidal, kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah dari sujud sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah sampai engkau thuma’ninah dalam duduk, dan lakukanlah hal yang demikian ini pada seluruh shalatmu.”

(H.R al-Bukhari dan Muslim)

Demikian dalil-dalil syar’i menilai dan menghukumi itu semua.

Masihkah ada yang menganggap bahwa tradisi tersebut patut dipertahankan?

Hanya orang pandai yang dapat menjawab….

Sumber : http://www.yuk-kenal-nu.net/2016/06/13/shalat-seperti-burung-mematuk/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s