Ruh Mayit Tertahan Karena Hutang

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( نَفْسُ اَلْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ, حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ

“Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ruh orang mati itu tergantung dengan hutangnya sampai hutang itu dilunasi untuknya.” (Riwayat Ahmad dan atTirmidzi. Hadits hasan menurut at-Tirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami’)

Penjelasan :

Ruh seorang mukmin akan tertahan dengan hutangnya, sampai dilunasi atau diikhlaskan oleh sang pemberi hutang. Para Ulama’ menjelaskan makna ‘tergantung/ tertahan oleh hutangnya’ dengan 2 penafsiran:

1. Tertahan dari mendapatkan kedudukan yang mulya setelah kematian (pendapat as-Suyuthy).

;عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ فَقَالَ هَاهُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِي فُلَانٍ قَالُوا نَعَمْ قَالَ إِنَّ صَاحِبَكُمْ مُحْتَبَسٌ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فِي دَيْنٍ عَلَيْهِ

“Dari Samurah bin Jundub beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah sholat Subuh kemudian berkata: Apakah di sini ada seseorang dari Bani Fulaan (disebut nama suatu kabilah). Sebagian Sahabat menyatakan: Ya. Nabi bersabda: Sesungguhnya saudara kalian tertahan di pintu surga karena hutang yang dimilikinya.” (H.R Ahmad no 19265, para perawinya adalah perawi-perawi dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim)

2. Belum bisa dipastikan apakah ia selamat atau celaka setelah kematian, sampai dilihat terlebih dahulu apakah hutangnya terlunasi atau belum (pendapat al-Iraqy) (Disarikan dari Daliilul Faalihin li thuruqi Riyaadhis Shoolihiin (6/247)).

Bahkan, seorang mati syahid di jalan Allah yang semestinya mendapatkan kemulyaan dengan diampuni dosa, dosanya akan terampuni kecuali hutang.

;الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ خَطِيئَةٍ فَقَالَ جِبْرِيلُ إِلَّا الدَّيْنَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا الدَّيْنَ

“Orang yang terbunuh di jalan Allah akan terhapus seluruh kesalahannya. Jibril menyatakan: kecuali hutang. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam menyatakan: kecuali hutang.” (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany).

Dosa terhadap Allah akan terampuni. Tersisa dosa atau tanggungan terhadap makhluk/ sesama manusia.

Jika demikian keadaan orang yang berhutang dan belum dilunasi, padahal orang yang menyerahkan piutang dulunya dalam keadaan ridha, bagaimana lagi dengan orang yang mengambil harta orang lain tanpa keridhaannya?!

Pasti akan lebih dahsyat lagi permasalahan yang akan dihadapinya setelah kematian. (Subulus Salaam syarh Bulughil Maram karya as-Shon’aany (2/92))

Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak bermudah-mudahan dalam berhutang kecuali dalam kondisi yang mendesak. Jika sudah memiliki kemampuan, segera lunasi hutang.

Demikian juga bagi ahli waris, jika masih tersisa hutang dari mayit yang belum tertunaikan, segera ditunaikan.

Sebagian Ulama’ menjelaskan bahwa keadaan yang disebutkan dalam hadits ini berlaku jika seseorang yang meninggal itu masih memiliki harta yang sebenarnya bisa digunakan untuk membayar hutang. Orang yang mempunyai kemampuan untuk membayar hutang, namun tidak segera melunasi hutangnya adalah orang yang dzhalim

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

“Mengulur-ulur pembayaran hutang padahal ia mampu adalah dzhalim.” (H.R al-Bukhari no 2225 dan 2924).

Berbeda dengan orang yang bersemangat kuat untuk membayar hutangnya, namun belum ditakdirkan oleh Allah. Orang yang semacam ini, meski di akhir hayat ia ternyata belum mampu membayar, Allah akan tunaikan untuknya.

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang mengambil harta manusia dalam keadaan suatu saat ingin ia bayar, maka Allah akan tunaikan untuknya. Barangsiapa yang mengambilnya dengan tujuan untuk membinasakan harta manusia, Allah akan binasakan harta itu baginya.” (H.R alBukhari no 2212)

Allah tunaikan untuknya, artinya Allah akan mudahkan baginya rezeki di dunia sehingga bisa dia lunasi, atau pihak pemberi hutang mengikhlaskannya, atau ada pihak lain yang membayarkan hutang untuknya.

“Dulu jika ada seseorang muslim yang meninggal dunia dan memiliki hutang belum dibayar, Nabi shollallahu alaihi wasallam tidak mau mensholatkan. Beliau perintahkan pada para Sahabat yang lain untuk mensholatkan, namun beliau tidak mensholatkan. Hal itu sebagai bentuk pelajaran agar mereka tidak bermudah-mudahan dalam berhutang dan segera melunasinya semasa hidup, sehingga jika mereka meninggal Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mau mensholatkan.

Kemudian, setelah Allah bukakan untuk Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kemenangan-kemenangan Islam, dan terkumpul banyak ghanimah, maka kemudian beliau menanggung pembayaran hutang untuk kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan masih memiliki hutang dan tidak mampu membayarnya.” (H.R al-Bukhari no 2133, lihat juga penjelasan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam Syarh Sunan Abi Dawud (17/390)).

Sikap demikian seharusnya diikuti oleh pemimpin kaum muslimin selanjutnya. Jika ada seorang muslim yang meninggal masih memiliki hutang dan tidak mampu dibayarnya, keluarganya juga fakir, maka dilunasi hutangnya diambilkan dari Baitul Maal. (Penjelasan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Syaikh (Taudhiihul Ahkaam (2/394))

Disalin dari buku “Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai Sunnah Nabi Shollallaahu Alaihi Wasallam (Syarh Kitab al-Janaiz Min Bulughil Maram)”. Penerbit Pustaka Hudaya, halaman 38-43.

Penulis: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman
حفظه الله.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s