Makna Al Qoyyum (Maha Berdiri Sendiri)

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Qayyum adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Bahkan nama ini adalah salah satu Asma’ul Husna yang teragung dari nama-nama-Nya, yaitu ketika nama ini bergabung dengan nama Allah al-Hayyu. As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Sebagian ulama peneliti menerangkan bahwa sesungguhnya keduanya adalah al-ismul a’zham yang bila Allah ‘azza wa jalla diseru dengan menyebutnya Dia akan mengijabahi, bila dimohon dengan menyebut nama itu, maka Ia akan memberi.”

Allah ‘azza wa jalla telah menyebut nama-Nya ini dalam tiga ayat dalam al-Qur’an, ketiganya bergandengan dengan nama Allah al-Hayyu. Nama tersebut juga ada dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana akan kami sebutkan.

Asy-Syaikh al-Harras menjelaskan bahwa di antara al-Asma’ul Husna itu adalah al-Qayyum, itu adalah bentuk mubalaghah dari kata Qa’im (bentuk kata yang memberi arti yang lebih dalam sifat tersebut). Al-Qayyum memiliki dua makna:

Pertama, Dia yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan seluruh makhluk, sehingga tidak butuh sesuatu pun, baik dalam hal adanya maupun dalam hal eksistensinya. Demikian pula dalam sifat kesempurnaan-Nya dan perbuatan yang muncul dari-Nya. Karena ketidakbutuhan-Nya bersifat dzati (terkait langsung dengan Dzat Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana kami telah terangkan, maka Dia tidak akan ditimpa kekurangan ataupun rasa butuh.

Kedua, Dialah yang selalu mengatur mahluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini membutuhkan-Nya, dengan rasa butuh yang dzati (terkait langsung dengan dzat makhluk tersebut), tidak mungkin tidak, walau sesaat saja.

Maka dari itu, makhluk butuh kepada-Nya dalam hal keberadaannya, Allah ‘azza wa jalla lah yang memberikan kepadanya sebab-sebab eksistensinya tidak ada sesuatu pun dalam alam ini seluruhnya kecuali dalam bantuan-Nya.

Dengan demikian, Dia selalu mengatur dan memerhatikan urusan makhluk-Nya, tidak mungkin Dia lalai sesaat pun dari mengawasi mereka, kalau tidak demikian maka akan kacau aturan alam dan akan hancur tonggak-tonggaknya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka. (al-Anbiya:42)

kemudian berfirman,

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Jadi sifat Allah ‘azza wa jalla yang satu ini, di antara sifat-sifat-Nya yang lain yaitu sebagai al-Qayyum, memiliki urusan yang besar sebagaimana besar-Nya Pemilik sifat ini, yang sifat ini dengan maknanya yang pertama mengandung kesempurnaan ketidakbutuhan-Nya dan kebesaran-Nya. Dengan makna yang kedua, mengandung seluruh sifat kesempurnaan dalam perbuatan-Nya yang tidak ada kesempurnaan bagi-Nya kecuali dengan sifat Al-Qayyum.

Di antara asma-Nya yang Mahaindah juga adalah al-Hayyu, Yang Mahahidup, dan nama al-Hayyu telah beriringan dengan nama-Nya al-Qayyum di tiga tempat dalam al-Qur’an:

Ayat kursi dalam surat al-Baqarah ayat 255,

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”

Awal surat Ali Imran ayat 1-2,

“Alif lam mim. Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

Surat Thaha ayat 111,

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Rabb yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.”

Makna al-Hayyu adalah yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang kekal abadi, yang tidak mengenai-Nya kematian ataupun fana, karena ini adalah sifat yang terkait dengan Dzat-Nya Yang Mahasuci. Sebagaimana sifat qayyum-Nya berkonsekuensi kesempurnaan seluruh perbuatan-Nya. Demikian pula sifat kehidupan-Nya yang sempurna berkonsekuensi seluruh sifat dzat-Nya yang sempurna, baik ilmu, kamampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, kebesaran, dan sebagainya.

Sifat al-Hayyu dan al-Qayyum mengandung sifat kesempurnaan seluruhnya. Keduanya ibarat dua kutub bagi seluruh langit sifat-sifat-Nya, sehingga tidak ada satu sifat pun yang keluar dari kedua sifat itu sama sekali.

Oleh karena itu, telah terdapat sebuah riwayat bahwa keduanya merupakan al-ismul a’zham, yaitu nama Allah Yang Mahaagung, yang apabila diminta dengan menyebut nama-Nya tersebut, Allah ‘azza wa jalla akan memberi; apabila dimohon dengan menyebut nama-Nya, Ia akan mengijabahi.

Kedua nama yang agung ini mengandung seluruh sifat kesempurnaan karena kehidupan merupakan syarat untuk memiliki segala kesempurnaan dalam Dzat-Nya baik itu ilmu, kemampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kalam, dan seterusnya. Karena selain yang hidup tidak memiliki sifat-sifat; siapa saja yang sempurna kehidupannya, maka dia akan lebih sempurna pada tiap sifat yang kehidupan merupakan syarat bagi sifat tersebut. Adapun al-Qayyum, yang salah satu maknanya adalah yang banyak mengatur urusan makhluk-Nya yang tidak lalai dari mereka walaupun sesaat, hal itu berkonsekuensi kesempurnaan dan kelanggengan seluruh perbuatan-Nya. (Syarh Nuniyyah, 1/111—113)

Ar-Rabi rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum artinya Yang mengatur segala sesuatu, menjaganya, dan memberinya rezeki.”

Mujahid rahimahullah menafsirkannya dengan tafsir yang semakna.

Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum adalah Yang melakukan penjagaan terhadap segala sesuatu, pemberian rezeki, pengaturannya, pada apa yang dia kehendaki dan Dia sukai, baik perubahan, penggantian, penambahan, maupun pengurangan.” (Tafsir ath-Thabari)

Telah disebutkan bahwa kedua nama Allah, yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum merupakan al-ismul a’zham, nama Allah ‘azza wa jalla yang teragung. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dikisahkan bahwa dahulu dia duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada seseorang yang shalat lalu berdoa,

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan mengimani bahwa milik-Mu segala pujian tiada sesembahan yang benar selain engkau al-Mannan, pencipta langit dan bumi, wahai yang memiliki keagungan dan kemurahan, wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sungguh dia telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menyebut nama-Nya yang terbesar yang bila diminta dengannya, Dia akan mengijabahi; dan bila dimohon dengannya, Dia akan memberi.” (Sahih, HR. Abu Dawud dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajari putrinya untuk berdoa dengan menyebut nama itu. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah,

“Apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang kuwasiatkan kepadamu? Hendaknya kamu ucapkan bila masuk waktu pagi dan masuk waktu sore, ‘Wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah seluruh urusanku … Janganlah Engkau serahkan diriku padaku walaupun sekejap mata selamanya’.” (Hasan, HR. Ibnu Sunni dalam kitab Amal Yaum wal lailah dan al-Baihaqi dalam Asma’ wash-Shifat. Lihat ash-Shahihah no. 227 dan Shahihul Jami’ no. 10759)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mempraktikkannya sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu juga,

Apabila tertimpa suatu urusan yang sulit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Wahai al-Hayyu dan al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Sunni lihat Shahilul Jami’ no. 8908 dan ash-Shahihah no. 3182)

Buah Mengimani Nama Allah Al-Qayyum

Di antara buah mengimani nama Allah al-Qayyum adalah mengetahui kebesaran Allah ‘azza wa jalla dan keagungan-Nya, segala perbuatan-Nya dalam puncak kesempurnaan, segala sifat-Nya dalam puncak keindahan dan ketinggian. Allah ‘azza wa jalla tak penah lemah, tak pernah letih, tak pernah butuh, tak pernah istirahat, tak pernah lalai walau sesaat, tak penah kantuk, dan tak pernah tidur.

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.” (al-Baqarah: 255)

“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)

“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)

Dia Maha Mencipta, Maha Memiliki, Maha Mengatur, Mahatahu, Mahamampu atas segala sesuatu, Mahaperkasa, Maha Mengawasi, Maha Memberi, dan sifat kesempurnaan lainnya.

Takkan rugi dan takkan tersia-siakan siapa pun yang Rabbnya adalah Dia, yang selalu ia puja, ibadahi, mohon, tauhidkan, dan pasrahi segala urusannya

Sumber : http://asysyariah.com/al-qayyum/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s