Sebab munculnya fitnah takfir

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata :

“Sejauh apa yang saya pahami, sebabnya kembali kepada dua perkara :

Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama. (Ini yang terpenting), memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti Sabilul Mukminin, jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya).

Siapa saja menyimpang dari (jalan) jamaah yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak sabdanya dan telah disebut oleh Allah subhanahu wa ta’ala (dalam al-Qur’an), ia telah menentang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Yang saya maksud adalah firman-Nya :

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Dan barang siapa mengikuti selain jalan orang-orang mukmin (*) , kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(an-Nisa: 115)

Kemudian beliau berkata : “Dari sinilah banyak sekali kelompok yang tersesat sejak dahulu hingga kini, karena mereka tidak mengikuti jalan orang-orang mukmin dan semata-mata mengandalkan akal, bahkan mengikuti hawa nafsu di dalam menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah, yang kemudian membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya, dan akhirnya menyimpang dari jalan as-Salafush Shalih.”

(Fitnatut Takfir, hlm. 13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas jeleknya niat.

(Fitnatut Takfir, hlm. 19)

Demikian pula asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan hafizhahullah menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan (ghirah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya.

(Zhahiratut- Tabdi’ wat-Tafsiq wat-Takfir wa Dhawabithuha, hlm. 14)

(*) Al-Imam Ibnu Abi Jamrah al-Andalusi berkata : “Para ulama telah menjelaskan makna firman Allah (di atas), ‘Sesungguhnya yang dimaksud orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi pertama dari umat ini…’.” (al-Mirqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah hlm. 36)

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc. hafizhahullah || Asy Syariah Edisi 008, Manhaji || http://www.asysyariah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s