Tauhid adalah perintah Allah yang paling agung dan hak Allah terhadap hambanya

TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA.

Dalil Keenam:

عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

Dari Muadz radhiyallahu anhu beliau berkata: Saya berboncengan di belakang Nabi shollallahu alahi wasallam di atas keledai yang disebut Ufair. Nabi bersabda: Wahai Muadz, apakah engkau tahu hak Allah terhadap para hambaNya, dan apa hak para hamba terhadap Allah. Aku berkata: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Nabi bersabda: Sesungguhnya hak Allah terhadap para hambaNya adalah mereka beribadah kepadaNya dan tidak mensekutukanNya dengan suatu apapun dan hak para hamba terhadap Allah adalah Allah tidak mengadzab orang yang tidak mensekutukannNya dengan suatu apapun. Maka aku (Muadz) berkata: Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya aku beritakan kabar gembira ini kepada manusia? Nabi bersabda: Jangan, dikhawatirkan mereka akan menganggap remeh dan bersandar (dengan hal yang tidak dipahaminya)(H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz dari al-Bukhari).

Penjelasan Dalil Keenam:

Hadits ini memberikan beberapa faidah kepada kita:

1. Bolehnya berboncengan di atas hewan tunggangan seperti keledai jika tidak membuat kesulitan bagi hewan tersebut (sesuai kapasitasnya). Demikian juga pada kendaraan-kendaraan modern saat ini (mobil atau motor), jangan membebani kendaraan itu di luar kapasitasnya, karena ini menimbulkan kemudharatan.

2. Bolehnya memberi nama hewan peliharaan. Contohnya dalam hadits ini keledai Nabi diberi nama ‘Ufair. (Lafadz penyebutan Ufair ini disebutkan dalam riwayat al-Bukhari, namun tidak tersebutkan dalam Kitabut Tauhid yang disusun Muallif).

3. Hak Allah terhadap hambaNya adalah para hamba tersebut beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan sedikitpun. Ini sesuai dengan tema pada bab pertama ini.

4. Sedangkan hak para hamba terhadap Allah adalah Allah tidak akan mengadzab mereka jika mereka tidak mensekutukan Allah.

Namun di sini ada perincian yang dijelaskan para Ulama yang harus dipahami. Bagi orang yang mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan, ada dua jenis:

Pertama, kelompok orang-orang yang mentauhidkan Allah dan perbuatan kebaikannya lebih banyak dibandingkan keburukannya, serta terhindar dari dosa-dosa besar, atau dosa-dosa besarnya diampuni oleh Allah, mereka ini akan selamat dari adzab anNaar secara keseluruhan. Tidak tersentuh api Neraka, langsung masuk Surga sejak awal.

Kedua, kelompok orang-orang yang mentauhidkan Allah, namun perbuatan keburukannya lebih berat dibandingkan kebaikannya, atau ia melakukan dosa besar yang tidak diampuni Allah sehingga harus mendapatkan adzab dulu. Setelah diadzab sesuai dosanya, ia kemudian masuk Surga, tidak kekal di Neraka.

5. Sahabat Nabi menyatakan Allaahu wa Rasuuluhu A’lam (Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu) jika mereka tidak mengetahui jawaban pertanyaan yang dikemukakan Nabi. Sebagaimana yang diucapkan Muadz bin Jabal.
Namun, setelah Nabi wafat, kaum muslimin jika menyatakan tidak tahu, cukup menyatakan: Allahu A’lam (Allah yang lebih tahu) sebagaimana penjelasan al-Lajnah ad-Daaimah, Syaikh Sholih al-Fauzan, dan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh.

Adab yang diajarkan Nabi dan para Sahabatnya yang harus terus dijaga adalah jika kita ditanya tentang sesuatu hal dan tidak mengetahuinya, maka kita mengatakan: tidak tahu atau Allahu A’lam (Allah yang lebih mengetahuinya). Tidak memaksakan diri untuk menjawab sesuatu yang tidak diketahui karena hal ini bisa menjerumuskan pada sikap berbicara atas Nama Allah tanpa ilmu, dan itu dosa besar.

6. Keutamaan Muadz bin Jabal.

7. Bolehnya menunda penyampaian ilmu dan disampaikan kepada orang yang diperkirakan bisa memahami dengan baik. Muadz bin Jabal mendapatkan ilmu yang khusus disampaikan Nabi kepada beliau. Sepanjang hidupnya, Muadz tidak pernah menyampaikan hadits Nabi ini kepada siapapun karena khawatir orang yang mendengarnya salah paham, dan kemudian tidak bersemangat beramal kebaikan hanya sekedar mencapai target asalkan tidak berbuat kesyirikan.

Namun, sebelum meninggal dunia, Muadz bin Jabal menyampaikan hadits Nabi ini karena khawatir beliau menanggung dosa menyembunyikan ilmu. Ini juga menunjukkan bahwa hal-hal terkait syariat yang didengar oleh para Sahabat Nabi pasti akan disampaikan kepada orang-orang setelahnya sehingga syariat ini terjaga tidak ada yang tidak tersampaikan.

Nabi adalah guru terbaik yang paling amanah, menyampaikan semua risalah dari Allah yang harus disampaikan, dan para Sahabat Nabi adalah murid-murid pilihan Allah yang paling amanah menyampaikan semua ajaran Nabi yang harus disampaikan.

Dikutip dari Draf Buku ” Tauhid, Anugerah yang Tak Tergantikan ”

Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

Sumber : http://telegram.me/alistiqomah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s