Bom bunuh diri dalam timbangan syariat

Semangat tetapi tanpa ilmu, penyakit inilah yang banyak menjangkiti kalangan aktivis dan pemuda Islam. Lahirlah kemudian berbagai macam aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Penyanderaan, bom bunuh diri, penyerangan terhadap warga negara dan kepentingan asing, serta pemberontakan terhadap pemerintah muslim, adalah sederet contoh tindakan yang dibungkus dengan nama jihad. Akibatnya, jihad yang syar’i justru dipandang sebelah mata oleh umat.

Jihad di dalam Islam merupakan salah satu amalan mulia, bahkan termasuk yang paling dimuliakan dalam Islam. Sebab, dengan amalan ini seorang muslim harus rela mengorbankan segala yang dimilikinya berupa harta, jiwa, tenaga, waktu, dan segala kesenangan dunia untuk menggapai keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُواْ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِي بَايَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١١١

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah. Lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 111)

Sesuai maksud dari ayat di atas, amalan jihad merupakan salah satu jenis ibadah yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, di dalam mengamalkannya pun harus memenuhi kriteria diterimanya suatu amalan. Yaitu ikhlas dalam beramal dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka amalan jihad tersebut tertolak.

Hal ini telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, bahwa ada seorang Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Ada seseorang yang berperang karena mengharapkan ghanimah (harta rampasan perang, –red.), ada seseorang yang berperang agar namanya disebut-sebut, dan ada seseorang yang berperang agar mendapatkan sanjungan, manakah yang disebut fi sabilillah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

مَنَ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلَمِةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Barang siapa berperang agar kalimat Allah subhanahu wa ta’ala itulah yang tinggi, itulah fi sabilillah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya dari Abu Dzabyan, dia berkata, Aku telah mendengar Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma bercerita, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus kami (memerangi kaum musyrikin) ke daerah Huraqah. Lalu kami pun menyerang mereka di pagi hari secara tiba-tiba. Akhirnya, kami dapat mengalahkan mereka. Kemudian aku bersama salah seorang Anshar mengejar salah satu dari mereka (yang melarikan diri, –red.). Ketika kami mendapatinya dan hendak membunuhnya, dia berkata, ‘Laa ilaaha illallah’. Orang Anshar tersebut menahan pedangnya, namun aku (tetap) membunuhnya dengan tombakku hingga mati. Ketika kami kembali, sampailah (berita ini) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata, ‘Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallah?’.

Aku menjawab, ‘Dia (melakukan itu) untuk melindungi diri (bukan dari hatinya).’

Beliau terus-menerus mengulangi ucapannya sehingga aku berkeinginan bahwa aku tidak masuk Islam kecuali hari itu.” (Karena Usamah merasa betapa besar kesalahan yang dilakukannya sehingga dengan masuk Islam bisa menghapuskan kesalahan yang terdahulu).

Riwayat ini menunjukkan bahwa di dalam mengamalkan agama Allah subhanahu wa ta’ala, tidaklah cukup hanya disertai dengan semangat belaka, namun juga haruslah dibarengi dengan ilmu agar nantinya di dalam mengamalkan suatu amalan dilakukan di atas bashirah (ilmu).

Bunuh Diri Haram Secara Mutlak

Riwayat-riwayat yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa bunuh diri dengan menggunakan alat apa pun merupakan salah satu dosa yang sangat besar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Berikut ini hadits-hadits yang berkaitan dengan larangan tersebut:

Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5778) dan Muslim (no. 158), dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ شَرِبَ سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ تَرْدَى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خاَلِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barang siapa bunuh diri dengan besi di tangannya, dia (akan) menikam perutnya di dalam neraka jahannam, kekal (dan) dikekalkan di dalamnya selamalamanya. Barang siapa yang meminum racun lalu bunuh diri dengannya, maka dia (akan) meminumnya perlahanlahan di dalam neraka jahannam kekal dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Barang siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari atas gunung, dia akan jatuh ke dalam neraka jahannam yang kekal (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.”[1]

Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Tsabit bin Dhahhak radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِي الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, dia disiksa dengan (alat tersebut) pada hari kiamat.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, berkata, kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Khaibar. Kemudian beliau berkata pada seseorang yang mengaku dirinya muslim, “Orang ini dari penduduk neraka.”
Ketika terjadi pertempuran, orang tersebut bertempur dengan sengitnya hingga terluka. Lalu dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, yang engkau katakan bahwa dia dari penduduk neraka, sesungguhnya pada hari ini dia ikut bertempur dengan sengitnya, dan dia telah mati.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Masuk neraka.”

Hampir saja sebagian manusia (sahabat, –red.) ragu (dengan ucapan tersebut). Ketika mereka dalam keadaan demikian, lalu mereka dikabari bahwa dia belum mati akan tetapi terluka dengan luka yang sangat parah. Hingga ketika malam hari, dia tidak sabar lagi dan bunuh diri. Lalu dikabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut, maka beliau berkata, “Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa sesungguhnya aku adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.”

Lalu beliau memerintahkan Bilal untuk berseru di hadapan manusia,

إِنَّهُ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّيْنَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

“Sesungguhnya tidaklah ada yang masuk surga kecuali jiwa yang muslim, dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan agama ini dengan laki-laki yang fajir (berbuat dosa).”
ledakan

Dalil-dalil di atas, sangat jelas mengharamkan bunuh diri dengan segala macam jenisnya dan dengan cara apa pun. Inilah yang dipahami oleh para ulama rahimahumullah. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Intihar adalah bunuh diri secara sengaja dengan sebab apa pun. Hal ini diharamkan dan termasuk dosa yang paling besar.” (Fatawa Islamiyyah, 4/519)

Fatwa Ulama Tentang Bom Bunuh Diri

Para aktivis pergerakan dari kalangan hizbiyyun yang melakukan amalan hanya bermodal semangat namun tidak memecahkan suatu permasalahan secara ilmiah berdasarkan pandangan yang sahih terhadap al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta tidak menjadikan ulama rabbani sebagai rujukan, berusaha melakukan pembelaan terhadap amalan yang batil ini. Kalangan ‘ulama’ mereka pun berusaha mendukungnya dengan cara menempatkan dalil meski tentu saja tidak pada tempatnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka merendahkan fatwa ulama yang melarang amalan ini karena termasuk dalam hukum bunuh diri, seraya menyatakan, “Mereka adalah ulama yang tidak mengerti waqi’ (kondisi)”, “Mereka hanya sepantasnya mengurusi masalah haid dan nifas saja. Adapun dalam masalah jihad, ada ulama tersendiri.” Masya Allah!

Ternyata, yang mereka anggap sebagai ulama adalah para ‘ulama gadungan’ yang memiliki pemikiran Khawarij, Quthbi, Ikhwani seperti Salman al-‘Audah, Sulaiman al-‘Ulwan, Ibrahim ad-Duwaisy, Sa’id bin Musfir, Yusuf al-Qardhawi, dan yang semisal mereka. Bahkan di antara mereka ada yang menukilkan ijma’ para ulama tentang bolehnya hal tersebut. Bukankah ini penukilan yang aneh? Bagaimana mungkin terjadi ijma’ dalam keadaan para ulama besar mengingkari perbuatan ini, seperti al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-‘Allamah Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh (Mufti Saudi Arabia), al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, dan yang lainnya rahimahumullah. (Tahrirul Maqal fi Annahu Intihar wa Laisa Istisyhad, Abu Muhammad Nashir as-Salafi, hlm. 17)

Berikut ini adalah fatwa dari al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang berupa intihar (tindakan bom bunuh diri) dengan cara membawa peledak (bom) kepada sekumpulan orang-orang kafir, kemudian meledakkannya setelah berada di tengah-tengah mereka, sesungguhnya ini termasuk bunuh diri, wal-’iyadzu billah (kita hanya memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala). Barang siapa yang membunuh dirinya, maka dia kekal dan dikekalkan dalam neraka jahannam selama-lamanya sebagaimana yang terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, bunuh diri semacam ini bukan karena kemaslahatan Islam. Karena ketika dia bunuh diri dan membunuh sepuluh atau seratus atau dua ratus (orang), tidaklah memberi manfaat kepada Islam dengan perbuatan tersebut di mana manusia tidak masuk ke dalam Islam. Berbeda dengan kisah anak muda tersebut.” (Maksudnya adalah kisah Ash-habul Ukhdud yang panjang, lihat haditsnya dalam Riyadhush Shalihin hadits no. 30 bab “ash-Shabar”, -pen.).

Boleh jadi, yang terjadi musuh justru akan semakin keras perlawanannya dan menjadikan darah mereka mendidih. Semakin banyaklah kaum muslimin yang terbunuh, sebagaimana perlakuan Yahudi terhadap penduduk Palestina. Jika mati salah seorang dari mereka (Yahudi) dengan sebab peledakan ini dan terbunuh enam atau tujuh orang, maka mereka mengambil (membunuh) dari mereka (muslimin Palestina)—dengan sebab peledakan itu—enam puluh orang atau lebih, sehingga tidak mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin dan tidak bermanfaat pula bagi yang diledakkan di barisan-barisan mereka.
Oleh karena itu, kami menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan tindakan bunuh dirinya, adalah membunuh jiwa tanpa hak dan menyebabkan masuknya ke dalam neraka, wal-’iyadzu billah. Pelakunya bukanlah syahid. Namun jika seseorang melakukan itu dengan anggapan bahwa hal tersebut boleh, maka kami berharap agar dia selamat dari dosa. Adapun bila dianggap syahid, maka tidak demikian. Sebab, dia tidak menempuh cara untuk mati syahid. Barang siapa yang berijtihad dan dia salah, maka baginya satu pahala.” (Syarah Riyadhush Shalihin, 1/165. Lihat pula Tahrir al-Maqal hlm. 23—24)

Hukum Menerobos Sarang Musuh

Banyak terjadi kesalahpahaman tentang riwayat-riwayat yang terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berkenaan tentang masalah ini, disebabkan ketidaktepatan mereka dalam menempatkan nash-nash tersebut sesuai porsinya. Akibatnya, mereka tidak bisa membedakan antara hukum bom bunuh diri dengan menyerang ke barisan musuh/sarang musuh hingga mati. Dalam masalah ini telah terjadi tiga kubu:

Pertama, adalah kubu yang membawa nash-nash tentang menyerang ke dalam barisan musuh kepada bolehnya melakukan bom bunuh diri, sebagaimana yang dipahami oleh para hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin dan selainnya.

Kedua, adalah kubu yang menganggap bahwa seluruhnya adalah tindakan bunuh diri, termasuk pula menyerang ke sarang musuh hingga mati. Ini dipahami oleh sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah tapi jahil dan tidak mampu menempatkan dan membedakan antara dua keadaan.

Ketiga, dan ini adalah kubu yang benar, yang membedakan antara kedua hukum disebabkan karena kondisi yang memang berbeda. Kondisi kedua dilakukan dengan cara sebagian (pasukan) masuk ke daerah musuh lalu bertempur hingga terbunuh di tangan musuh, bukan meledakkan tubuh sendiri. Kondisi ini merupakan amalan yang disyariatkan berdasarkan dalil-dalil yang akan disebutkan berikut perkataan para ulama.

Di antara dalil disyariatkannya amalan tersebut:

Tentang tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٩٥

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orangorang yang berbuat baik.” (al-Baqarah:195)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (4/72) dari Aslam Abu ‘Imran at-Tujibi, dia berkata, ketika kami berada di daerah Romawi di mana mereka mengerahkan pasukan besar, keluarlah kaum muslimin setara (jumlah mereka) atau lebih untuk menghadapinya. Yang memimpin pasukan dari Mesir adalah ‘Uqbah bin ‘Amir sedangkan pasukan lainnya dipimpin oleh Fudhalah bin ‘Ubaid. Salah seorang dari kaum muslimin menerobos masuk ke barisan Romawi hingga berada di tengah-tengah mereka. Berteriaklah manusia dan berkata, “Subhanallah, dia telah melemparkan dirinya ke dalam kebinasaan.”

Berdirilah Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah menakwil ayat ini dengan penakwilan semacam ini. (Padahal) sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan kami kaum Anshar, di saat Allah subhanahu wa ta’ala telah memuliakan Islam dan semakin banyak para penolongnya, maka sebagian kami berbisik terhadap sebagian lainnya tanpa sepengetahuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya harta kita telah telantar dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah muliakan Islam dan semakin banyak penolongnya. (Alangkah baiknya) sekiranya kita memperbaiki perekonomian kita dan menata kembali apa yang telah telantar.’ Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bantahan terhadap apa yang kami katakan. Kebinasaan (yang dimaksud) adalah memperbaiki perekonomian dan menatanya lalu meninggalkan peperangan.”

Abu Ayyub senantiasa berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala sampai beliau dikuburkan di Romawi. (Hadits ini dinyatakan sahih oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam ash-Shahihul Musnad fi Asbabin Nuzul no. 34)

Lihat pula penafsiran para ulama dalam menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡرِي نَفۡسَهُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ رَءُوفُۢ بِٱلۡعِبَادِ ٢٠٧

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (al-Baqarah: 207)

‘Umar bin al-Khaththab dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma membantah komentar orang yang mengatakan tentang salah seorang yang menerobos masuk di antara dua barisan musuh dengan menyatakan, “Dia telah melemparkan dirinya dalam kebinasaan.” Mereka dibantah oleh ‘Umar dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala tersebut,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡرِي نَفۡسَهُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ رَءُوفُۢ بِٱلۡعِبَادِ ٢٠٧

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 5/303 dan al-
Baihaqi dalam al-Kubra, 9/46)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2805) dan Muslim (no. 3523) dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, Pamanku Anas bin an-Nadhr tidak ikut serta dalam Perang Badr, maka ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak ikut sejak perang pertama di mana engkau memerangi musyrikin. Sekiranya Allah subhanahu wa ta’ala memberi kesempatanku hadir dalam memerangi musyrikin, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan melihat apa yang akan aku perbuat!”

Ketika pecah Perang Uhud dan kaum muslimin kalah, ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku beruzur padamu dari apa yang dilakukan mereka ini (yaitu larinya kaum muslimin dari medan pertempuran) dan aku berlepas diri kepadamu dari apa yang dilakukan mereka ini (kaum musyrikin).”

Lalu Anas bin an-Nadhr maju dan bertemu Sa’ad bin Mu’adz lalu berkata, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, jannah (surga), demi Rabb an-Nadhr, sesungguhnya aku mencium baunya di bawah kaki Gunung Uhud.”

Kata Sa’ad bin Muadz, “Aku tidak mampu berbuat sepertinya, wahai Rasulullah.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Lalu kami menemukannya dengan 80 lebih luka berupa tebasan pedang, tombak, dan lemparan panah. Kami menemukannya telah dicincang oleh kaum musyrikin. Tidak seorang pun mengenalnya kecuali saudara perempuannya yang mengenali jarinya.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini (al-Ahzab: 23) turun berkenaan tentangnya.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim (13/45—46) dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda, “Bangkitlah kalian menuju jannah yang seluas langit dan bumi.”

‘Umair bin al-Humam al-Anshari radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, jannah seluas langit dan bumi?”

Beliau menjawab, ‘Ya.’

Dia pun berkata, ‘Bakhin, bakhin’(ucapan yang menunjukkan rasa takjub, –pen.).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang membuatmu mengucapkan ‘bakhin, bakhin’?”

Dia menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah, aku berharap agar (aku) termasuk penduduknya.’

Beliau berkata, ‘Engkau termasuk penduduknya.’

Dia (‘Umair) mengeluarkan beberapa buah kurma dari tempatnya lalu memakannya. Kemudian berkata, ‘Jika aku hidup sampai aku memakan buah kurmaku ini, sesungguhnya ini adalah kehidupan yang panjang.’

Lalu dia pun melempar kurma yang ada di tangannya kemudian bertempur hingga terbunuh.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “(Hadits) ini menunjukkan bolehnya menerobos ke tengah orang-orang kafir dan menghadapi mati syahid. Hal ini boleh, tidaklah dibenci menurut mayoritas para ulama.” (Syarah Shahih Muslim, 13/46)

Selain itu, masih ada beberapa dalil yang lain yang menunjukkan bolehnya amalan ini. (Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi, bab Man Tabarra’a Bitta’arrudh Bil Qatl, 9/43—44).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, para imam yang empat membolehkan seorang muslim menerobos ke dalam barisan orang-orang kafir, meskipun kemungkinan besar mereka (musuh) akan membunuhnya, jika yang demikian mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin.” (Majmu’ Fatawa, 28/540)

Membantah Syubhat yang Membolehkan Bom Bunuh Diri

Mereka yang berpendapat bolehnya melakukan bom bunuh diri selalu menggunakan hujah berupa dalil-dalil yang membolehkan menerobos masuk ke sarang musuh,—dan telah jelas bagi para pembaca rahimakumullah (semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Anda semua)— perbedaan di antara keduanya. Namun masih ada satu dalil yang juga mereka jadikan sebagai alasan bolehnya amalan ini, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah, yang menceritakan tentang Ashabul Ukhdud di mana seorang pemuda yang bertauhid memberikan petunjuk kepada sang raja yang zalim tentang cara membunuhnya, yang mendatangkan kemaslahatan yang luar biasa, yaitu masuk Islamnya seluruh penduduk kampung dan meninggalkan agama nenek moyangnya. Lihat kisahnya dalam kitab Riyadhush Shalihin bab “Ash-Shabr”, hadits no. 30.

Bantahan terhadap pendalilan mereka dengan kisah ini dari beberapa sisi:

Pertama: Bahwa hadits ini gambarannya adalah seorang pemuda yang menjadi sebab terbunuhnya dirinya, namun mendatangkan kemaslahatan yang jelas adanya, yaitu masuk Islamnya seluruh penduduk kampung. Berbeda dengan bom bunuh diri yang sama sekali tidak mendatangkan kemaslahatan, bahkan kemudaratan yang semakin besar dengan terbunuhnya kaum muslimin dengan jumlah yang semakin hari kian bertambah. Manakah kemaslahatan? Apakah orang-orang Yahudi berbondong-bondong masuk Islam dengan sebab amalan tersebut? Berpikirlah, wahai orang-orang yang berakal.

Kedua: Bahwa pemuda tersebut tidaklah membunuh dirinya sendiri namun dia terbunuh melalui tangan sang raja di saat sang raja mengucapkan kalimat tauhid. Masuk Islamlah seluruh penduduknya. Berbeda dengan bom bunuh diri yang meledakkan dirinya sendiri bersama yang lainnya, dan membunuh dirinya sendiri dengan sengaja. Manakah persamaan itu?

Ketiga: Berbeda antara bunuh diri dengan memberikan petunjuk tentang cara membunuh dirinya, karena pemuda ini mendapatkan ilham akan adanya kemaslahatan yang lebih besar. Adapun bom bunuh diri yang mereka lakukan tidak lebih dari meninggalkan dampak yang lebih buruk yang menimpa kaum muslimin dengan sebab balas dendam yang dilakukan oleh orang-orang kafir Yahudi terhadap kaum muslimin yang lemah. Ditambah lagi kurangnya ilmu yang mereka miliki serta tersebarnya kebid’ahan, kemaksiatan, dan jauhnya mereka dari ilmu as-Sunnah. (ar-Raddu ‘ala Mujizil Intihar, Mahir bin Zhafir al-Qahthani, hlm. 6—7).

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal al-Bugisi

[1] Tidak ada dalil dalam hadits ini bagi Mu’tazilah dan Khawarij bahwa pelaku dosa besar keluar dari Islam dan kekal di neraka, karena hadits jika tidak terkait dengan orang yang menghalalkan maksiat, maka menunjukkan bahwa itulah hukuman yang pantas baginya. Hanya saja Allah dengan rahmat-Nya menetapkan seseorang yang mati sebagai muslim tidak akan kekal di neraka sebagaimana dalam dalil lainnya; atau untuk menunjukkan betapa lamanya di neraka. (Syarh Shahih Muslim, 2/103-104)

Sumber : http://www.asysyariah.com/bom-bunuh-diri-dalam-timbangan-syariat/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s