Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman:

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِ ۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِ ۚ اُولٰٓئِكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَ ؕ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur: Ayat 26)

Banyak orang yg mempertanyakan tentang ayat ini karena kenyataannya banyak orang yg katanya baik menikahi orang yang tidak baik. Firman Allah adalah benar dan tidak mungkin salah hanya saja orang yg mempertanyakannya itu bodoh tentang syariat islam. Jodoh yang baik itu harus dengan cara yang baik pula yaitu dengan cara ta’aruf bukan pacaran yang diharamkan. Dan memilih jodoh itu harus dilihat agama dan akhlaknya dan inilah yg banyak diabaikan. Ayat Allah tidak mungkin salah tapi manusianya itulah yg menilai dengan kebodohannya.

Pacaran itu diharamkan dalam islam dan orang yang pacaran itu fasiq, dua-duanya tidak baik. Lelaki atau wanita yang sholeh dan sholehah tidak akan pacaran untuk mencari jodoh. Mereka mencari jodoh dengan cara yang disyariatkan yaitu ta’aruf.

Orang yang pacaran itu jelek akhlaknya karena ada satu akhlak yang mulia hilang yaitu rasa malu. Jadi kalo ingin mendapatkan jodoh dengan akhlak yang baik dengan cara pacaran tidak akan kalian temukan.

Pacaran adalah perbuatan keji karena mendekati zina bahkan banyak orang yang pacaran berbuat zina karena itulah orang yang pacaran adalah orang yang keji.

Beberapa faedah tentang ayat

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).” (QS. An-Nur: Ayat 26)

Ayat ini memiliki dua makna:

a. Kata khabitsat (yang keji/buruk) dan amalan sayyi’at (jelek) paling pantas digandengkan dengan orang-orang yang keji. Orang-orang yang keji lebih pantas dan cocok dengan kata khabitsat dan amalan fahisyah. Kata thayyibat (yang baik) dan amalan thahirah (suci) paling pantas dan paling berhak disandangkan kepada orang-orang thayyibun, para pemilik jiwa yang mulia dan akhlak karimah yang tinggi. Thayyibun lebih pantas dengan kata thayyibat dan amalan shalihat.

b. Wanita-wanita khabitsat untuk laki-laki khabitsun (keji), dan para lelaki khabitsun lebih pantas pula beroleh wanita-wanita khabitsat. Sebaliknya, wanita-wanita thayyibat, yang suci lagi menjaga diri, lebih pantas untuk para lelaki yang suci lagi menjaga diri. Para lelaki thayyibun dan menjaga diri paling utama beroleh para wanita yang suci lagi menjaga diri pula.

Ayat ini dengan kedua maknanya menunjukkan kesucian Ummul Mukminin Aisyah dari tuduhan keji yang dilemparkan Abdullah bin Ubai bin Salul dan orang yang mengikutinya yang tertipu dengan kedustaannya dan teperdaya oleh ucapannya yang diindah-indahkan.¹

Tambahan faedah dari Ustadz Idral Harits : “Yang dimaksud thoyyib atau baik dalam ayat diatas adalah baik akidah dan manhajnya, baik akhlaknya, baik mu’amalahnya, baik semuanya”

1. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta, fatwa no. 11324, 3/271—276) Sumber : http://www.asysyariah.com/ayat-yang-bertentangan/