SYUBHAT SEPUTAR PERIBADATAN TERHADAP KUBUR

Mufti: al-Imam Ibnu Baz rahimahullah

Pertanyaan :

“Ada seseorang bertanya, (Kaum musyrikin di masa Nabi ﷺ) berkata:”Kami tidak menyembah mereka kecuali untuk mendekatkan diri kami (kepada Allah). Orang-orang tersebut mengakui bahwa mereka beribadah (kepada berhala-berhala itu). Sedangkan orang-orang belakangan tidaklah mengatakan bahwa mereka beribadah (kepada kuburan). Mereka mengatakan bahwa mereka bertabarruk. (Bagaimana hukum perbuatan mereka ini)?”

Jawaban :

“Maka jawabannya, hendaklah dikatakan pada mereka:yang menjadi ‘ibrah adalah hakikat dan makna (sesuatu). Bukannya perbedaan istilah. Jika mereka (orang-orang belakangan) berkata:”kami tidak beribadah pada mereka (penghuni kubur). Kami hanya bertabarruk (mencari barakah) dengan mereka” Pernyataan ini tidak bermanfaat bagi mereka, selama mereka berbuat seperti perbuatan kaum musyrikin (Quraisy) sebelum mereka, walaupun mereka (generasi belakangan) tidak menamakan perbuatan itu sebagai ibadah. Bahkan mereka menamakannya sebagai tawassul atau tabarruk. Maka bergantung kepada selain Allah, berdoa kepada orang mati, para Nabi, dan orang-orang shalih, menyembelih untuk mereka atau sujud kepada mereka atau beristighatsah¹ dengan (perantaraan) mereka, semua itu adalah ibadah walaupun mereka menamakannya sebagai pelayanan. Atau mereka menamakannya dengan selain itu. Karena yang menjadi ‘ibrah adalah hakikatnya, bukan sekedar penamaan sebagaimana telah lalu.

Dan di antara bentuk (contoh seperti ini) adalah perkataan sekelompok orang (sahabat Nabi ﷺ) yang keluar bersama Nabi ﷺ menuju Hunain. Ketika mereka melihat kaum musyrikin menggantungkan senjata-senjata mereka di sebuah pohon sidr (dalam rangka bertabarruk), mereka berkata:”Wahai Rasulullah, jadikan untuk kami dzatu anwath (tempat untuk menggantungkan senjata) sebagaimana mereka (musyrikin) memiliki dzatu anwath.”

Maka Nabi ﷺ bersabda:”Allahu Akbar! Kalian berkata-demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya-seperti perkataan Bani Israil kepada Musa:”Jadikan untuk kami ilah (sesembahan) sebagaimana mereka (orang-orang musyrik yang ditemui Bani Israil-pent) mempunyai ilah-ilah.²`³” Maka beliau ﷺ menjadikan hal itu sebagai satu perkataan yang sama, kendati mereka hanya menyatakan “jadikan untuk kami dzatu anwath” beliau menganggap perkataan mereka seperti perkataan Bani Israil. Karena yang menjadi ‘ibrah adalah makna dan hakikatnya. Bukan sekedar istilah.

Majmu’ul Fatawa wa Maqalat asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah 3/139

Thuwailibul ‘Ilmisy Syar’i (TwIS)

Penerjemah : Abu Abdillah Rahmat

Muraja’ah: al-Ustadz Kharisman _hafizhahullah_

Catatan Kaki:

1. Istighatsah: memohon pertolongan pada Allah dalam kondisi darurat dan sangat mendesak.

2. Dzatu anwath adalah pohon sidr tempat kaum musyrikin di masa Nabi ﷺ menggantungkan senjata-senjata mereka dalam rangka mencari barakah dengan pohon tersebut agar bisa merai kemenangan. Perbuatan mencari barakah dengan mayit penghuni kubur atau sesuatu yang tidak disyariatkan untuk dicari barakah dengannya, disamakan oleh Nabi dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa agar dijadikan untuk mereka ilah (sesembahan).

3. H.R. At-Tirmidzi dari Sahabat Abu Waqid al-Laitsi. Dishahihkan al-Albani rahimahullah. Para sahabat yang meminta pada beliau ﷺ dzatu anwath adalah mereka yang baru terlepas dari kekafiran dan masuk Islam. Sehingga mereka belum mengetahui banyak dari hukum syariat. Wallahu a’lam.

Arabic :

شبهة لعباد القبور

س: وأما قول السائل: أولئك قالوا ما نعبدهم إلا ليقربونا، فاعترفوا بالعبادة ولكن هؤلاء المتأخرين ما يقولون: إنهم يعبدونهم، ولكن يقولون: إنهم يتبركون بهم؟

جـ: فالجواب أن يقال: الاعتبار بالحقائق والمعنى لا باختلاف الألفاظ، فإذا قالوا: ما نعبدهم وإنما نتبرك بهم، لم ينفعهم ذلك ما داموا فعلوا فعل المشركين من قبلهم، وإن لم يسموا ذلك عبادة، بل سموه توسلًا أو تبركًا، فالتعلق بغير الله، ودعاء الأموات والأنبياء والصالحين والذبح لهم أو السجود لهم، أو الاستغاثة بهم، كل ذلك عبادة ولو سموها خدمة، أو سموها غير ذلك، لأن العبرة بالحقائق لا بالأسماء كما تقدم.
ومن هذا القبيل قول الجماعة الذين خ

رجوا مع النبي ﷺ إلى حنين لما رأوا المشركين يعلقون أسلحتهم على سدرة، قالوا: (يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط، فقال النبيﷺ: الله أكبر قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة. فجعل المقالة واحدة، مع أن هؤلاء قالوا: اجعل لنا ذات أنواط، فجعل قولهم مثل قول بني إسرائيل؛ لأن العبرة بالمعنى والحقائق، لا بالألفاظ[1].

(مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 3/139)

https://binbaz.org.sa/fatwas/55/شبهة-لعباد-القبور