Bagaimana cara agar umat islam bersatu

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah :

1. Pertama, Pembenahan aqidah. Yaitu aqidah umat harus bersih dari kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,

وإن هذه أمتكم أمة واحدة وأنا ربكم فاتقون

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama yang satu, dan aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.” (al-Mu’minun : 52)
Lanjutkan membaca “Bagaimana cara agar umat islam bersatu”

Banyak dosa tapi sukses dan kaya raya

Oleh : Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman -hafidzahullah

Tidak sedikit orang yang semakin banyak bermaksiat, semakin kaya. Semakin besar kedzhalimannya, semakin makmur di dunia. Semakin besar kekafirannya, semakin tinggi jabatannya, dan seterusnya.

Mereka adalah orang-orang yang ‘sukses’ (dengan tanda petik). Sukses dalam pandangan orang awam. ‘Sukses’ semacam itu hanyalah semu. Ia seakan-akan sukses, padahal menabung penderitaan yang berlipat dan berkepanjangan.

Semakin seorang jauh dari Allah, semakin ia makmur di dunia. Itu disebut sebagai istidraj.

Allah beri limpahan nikmat yang terus berlipat seiring dengan kedurhakaannya, agar semakin bertumpuk dosanya, dan semakin besar adzabnya di sisi Allah.

Ketika ia semakin berkubang dengan kemaksiatannya, semakin lalailah dia, dan secara tiba-tiba Allah mengadzabnya.

Rasul ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}

“Jika engkau melihat Allah memberi bagian dari (kenikmatan) dunia kepada seseorang atas kemaksiatannya yang ia senangi, ketahuilah sesungguhnya itu adalah istidraj. Kemudian Rasul ﷺ membaca Firman Allah Ta’ala :

﴿ فَلَمــَّا نَسُوا مَا ذُكِّـــرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بــِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُـــمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِســُونَ ﴾

“Maka ketika mereka melupakan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Kami siksa mereka secara tiba-tiba, sehingga ketika itu mereka terdiam berputus asa (Q.S al-An’aam:46) [H.R Ahmad]

Sumber : Buku “Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar dan Taubat”

Kejahatan penguasa akibat dosa-dosa rakyatnya

الذين يجعلون الداء والدواء في الحكام يخدعون الناس ويخدروهم ويضلوهم. اليساري والليبرالي والعلماني والإخواني والقاعدي والداعشي والحزبي الخ… يرون أن المشكلة في الحكام وأن الحل في تغييرهم!!

Orang-orang yang menimpakan masalah dan solusi pada pemerintah, mereka berusaha menipu manusia, membuat mereka bingung, dan menyesatkan mereka. Sayap kiri, liberalis, sekuleris, pengikut al-Ikhwanul Muslimun, al-Qaeda, ISIS, hizbi, dan seterusnya, mereka semua menilai bahwa masalah itu ada pada para penguasa, dan solusinya adalah dengan mengganti mereka.
Lanjutkan membaca “Kejahatan penguasa akibat dosa-dosa rakyatnya”

Wanita beriman di surga lebih cantik dari bidadari

Al-Imam Al-Qurthuby rahimahullah menyebutkan:

Keadaan wanita beriman di surga itu lebih baik daripada keadaan bidadari surga, lebih tinggi derajatnya dan lebih cantik. Maka wanita shalihah dari penduduk dunia itu jika ia masuk surga, maka sesungguhnya ia masuk surga karena balasan atas amalan shalihnya, dan merupakan kemurahan dari Allah kepadanya karena agama dan kebaikannya. Adapun bidadari surga yang mana ia merupakan kenikmatan surga, maka sesungguhnya ia diciptakan di surga karena disediakan untuk selainnya, dan dijadikan sebagai balasan untuk orang yang beriman atas amal shalihnya.
Lanjutkan membaca “Wanita beriman di surga lebih cantik dari bidadari”

Berpakaian tapi telanjang

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penduduk neraka yang belum pernah aku lihat. Satu kaum, dengan cemeti-cemeti seperti ekor sapi, mereka menggunakannya untuk memukul orang. Kaum wanita yang berpakaian, padahal tetap telanjang. Mereka membuat orang lain menjadi menyimpang dan mereka sendiri jauh dari ketaatan kepada Allah. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga juga tidak dapat mencium harumnya surga. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarak yang sangat jauh.” [H.R. Muslim 2128]

Luar biasa indahnya Islam! Kita dikenalkan dengan berbagai macam makna dan hakikat dari sekian banyak hal. Islam meluruskan cara pandang kita. Islam mengajak untuk melihat dan menilai dengan sudut suci. Alhamdulillah. Kalau bukan karena Allah yang bermurah kasih, tentu kita tidak pernah mengecap manisnya Islam.

Kaya itu kaya hati, bukan dengan ukuran harta. Orang kuat itu bukankah dia yang mampu membanting atau menjatuhkan lawan, namun dia yang dapat menahan emosi. Seorang dermawan adalah yang selalu berbagi walau sedikit, bukannya dia yang harus memberi dalam jumlah besar.

Nah, Sobat Tashfiyah, hal-hal di atas sekadar contoh tentang Islam yang mencerahkan pemahaman akan banyak hal dalam kehidupan manusia. Indah sekali bukan? Harapannya, supaya kita tidak salah menilai. Agar kita tidak keliru menanggapi. Itulah Islam yang sangat menginginkan kebenaran.

Hakikat wanita yang berpakaian dan wanita yang telanjang pun demikian. Islam tidak hanya menilai wanita telanjang sebagai wanita yang tidak menggunakan sehelai benang pun di badannya. Bukan hanya itu! Bahkan sekalipun dia berpakaian, tetap dinilai telanjang oleh Islam. Kenapa bisa begitu?

Memang ia berpakaian. Namun pakaiannya tidak mencukupi untuk disebut menutup tubuh. Lekuk tekuk badannya tercetak jelas. Warna kulitnya pun tidak dapat disembunyikan oleh pakaiannya. Betis dan pahanya terlihat. Leher dan rambutnya tersaji untuk setiap orang.

Apakah wanita semacam ini dapat dikatakan berpakaian? Ataukah ia lebih pantas dikatakan telanjang?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (2128) mengenai hal ini. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penduduk neraka yang belum pernah aku lihat. Satu kaum, dengan cemeti-cemeti seperti ekor sapi, mereka menggunakannya untuk memukul orang. Kaum wanita yang berpakaian, padahal tetap telanjang. Mereka membuat orang lain menjadi menyimpang dan mereka sendiri jauh dari ketaatan kepada Allah. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga juga tidak dapat mencium harumnya surga. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarak yang sangat jauh.”

***

Mengerikan! Benar-benar menakutkan!

Apakah engkau, wahai saudariku, tidak tergetar hatimu dengan ancaman Nabi Muhammad n di atas? Apakah engkau tidak merasa ngeri dengan berita Nabi? Bayangkan! Jangankan masuk surga, harum mewangi surga yang tercium dari jarak yang sangat jauh pun tidak dapat ia rasakan.

Memang ada dua jenis orang yang diancam seperti itu. Akan tetapi, kali ini kita sedang berbicara tentang dirimu. Tentangmu, wahai saudariku muslimah. Sabda Nabi Muhammad n di atas bukanlah sebatas untuk menakut-nakutimu. Seperti itulah dalamnya cinta dan luasnya perhatian Rasulullah n kepada kaum muslimah.

Beliau menyampaikan hal ini agar kaum muslimah berupaya untuk tidak terbawa dalam dosa. Subhanallah! Gambaran wanita seperti di dalam hadits memang belum pernah ada di zaman Nabi. Beliau tidak pernah menyaksikan fakta pahit di lapangan seperti itu. Bagaimana di zaman kita ini?

Hadits di atas sekaligus sebagai salah satu bukti kerasulan Muhammad dan kenabiannya. Sebab, berita yang disampaikan beliau benar-benar terjadi. Terjadi seperti yang termaktub di dalam hadits. Kalau bukan berdasarkan wahyu dari Allah, tidak akan mungkin beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bisa bercerita untuk kita.

Coba baca secara cermat gambaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang wanita yang disebut tidak masuk surga dan tidak bisa mencium harumnya!

***

Wanita yang berpakaian, namun telanjang. Iya, apa artinya beberapa lembar kain yang terjahit sebagai pakaiannya? Sementara pakaian itu masih dengan jelas menggambarkan tubuh dan badannya. Tipis, menerawang, pendek dan ketat. Bagian tubuhnya yang mesti terlindungi tetap terbuka. Nampak dilihat. Ah, malu rasanya untuk melanjutkan.

Ia berpakaian, namun telanjang!

Wanita yang sesat jalan, sesat berpikir. Ia jauh dari nilai-nilai agama. Ia tidak mengerti mengapa ia diciptakan di dunia? Untuk apa ia hidup di atas muka bumi? Ia tidak mengenal Allah, tidak mengenal Nabi-Nya juga tidak mengenal Islam secara sebenarnya. Wanita yang tidak berusaha mencari jalan terang.

Wanita yang membuat orang lain ikut tersesat. Teman wanitanya dipengaruhi untuk sama-sama menjauh dari Allah. Ia mengajak -walau hanya dalam sikap, tanpa berkata-kata- sesamanya untuk membuang jauh-jauh ajaran agama. Wanita yang membuat kaum laki-laki menjadi bangkit nafsu dan syahwatnya. Wanita yang membuat kaum laki-laki selalu berpikir kotor karena melihat cara berpakaiannya.

Wanita maailaat dan wanita mumiilaat!

Wanita yang mode rambutnya mirip punuk unta. Digelung, disanggul dan dibuat tinggi ke atas. Ia memilih cara seperti itu untuk berhias dan berdandan untuk tampil di hadapan khalayak ramai. Bukannya malu, malah ia merasa bangga dan percaya diri. Apalagi bila terdengar komentar penuh pujian. Berbunga-bunga hatinya.

Ru’usuhunna ka asnimatil bukhti al maailah. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring.

***

Di dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa harum mewanginya surga dapat tercium dari jarak lima ratus tahun perjalanan. Masya Allah! Subhanallah! Apabila demikian, ancaman untuk kaum wanita bercirikan di atas bukanlah ancaman yang ringan. Ini ancaman berat lagi menakutkan.

Mestinya, ancaman di atas sudah cukup bagi seorang wanita muslimah untuk melakukan instrospeksi diri. Sudahkan ia berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari siksa jahannam? Sudahkah ia berkaca dan bercermin, jika dirinya ternyata jauh dari nilai-nilai Islam?

Ingatlah sekali lagi, wahai saudariku. Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di atas bukan sebatas untuk menakut-nakuti. Beliau ingin dirimu menjadi wanita penghuni surga. Beliau hendak membimbingmu agar terhindar dari siksa neraka. Mengapa engkau belum juga tersadar? Apakah engkau tidak merasakan betapa cinta dan kasihnya beliau kepadamu?

Sekarang. Sejak detik ini. Mulailah berpikir untuk membuka lembaran baru dalam hidupmu. Mulailah untuk merancang, mereka-reka, merencanakan dan menyusun program. Program hidup yang akan membawamu dalam kedamaian hakiki. Ketenteraman abadi. Dalam balutan hijab syar’i.

Tinggalkan pakaian-pakaian seksimu! Pakaian yang mesti engkau tebus dengan rupiah yang tidak sedikit. Bila dahulu selalu mengikuti perkembangan mode dan fashion, sekarang engkau harus memulai untuk melengkapi busana muslimahmu. Jauhi teman-teman yang akan menghalangi niat sucimu ini. Barakallahu fik.

Sebuah pesan terakhir, sebelum kita berpisah melalui tulisan ini. Jadikanlah pertimbangan utamamu untuk menentukan sikap demi keputusan terakhir. Antara tetap hidup dalam pakaian bertelanjang ataukah menyonsong damainya hijab syar’i. Jadikanlah pertimbanganmu, dengan membayangkan surga dan neraka di hadapanmu!

Manakah yang akan engkau pilih?!

Dari sini. Dari bumi Allah ini. Saya hanya dapat membantu dengan doa. Ya Allah berikanlah petunjuk-Mu untuk saudari-saudariku. Terangilah hati dan pikiran mereka. Luaskanlah dan lapangkanlah dada mereka agar dapat menerima kebenaran yang Engkau terangkan dalam kitab-Mu. Bimbinglah mereka agar mantap dan tegar hatinya di dalam sebuah keputusan suci; berhijab secara syar’i.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq. Allah yang memberi taufik kepada jalan yang terbaik.

[Al Ustadz Abu Nasim Muktar]

Sumber : http://tashfiyah.com/berbaju-tapi-telanjang/

Ahlus sunnah selalu mendoakan kebaikan untuk pemerintah

Al-Imam al-Barbahari rahimahumallah berkata,
“Apabila engkau melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk penguasa, ketahuilah dia seorang Ahlus Sunnah, insya Allah.”

Al-Imam Fudhail bin Iyadh rahimahumallah berkata, “Sekiranya aku mempunyai doa (yang terkabul), aku tidak akan mengarahkannya kecuali untuk penguasa.”

Seseorang bertanya, “Hai Abu Ali (Fudhail), jelaskan maksud kalimat ini kepada kami semua.”

Lanjutkan membaca “Ahlus sunnah selalu mendoakan kebaikan untuk pemerintah”

Benarkah tauhid memecah belah ummat?

Pertanyaan :

Apa nasihat engkau bagi pihak yang mengatakan bahwa tauhid memecah belah ummat ? dan mengatakan : Kita mengumpulkan massa terlebih dahulu kemudian kita mengajari manusia ?

Asy Syaikh Al ‘Allamah Shalih Bin Fauzan Al Fauzan حفظه الله menjawab :
Lanjutkan membaca “Benarkah tauhid memecah belah ummat?”