Proses manusia melewati Ash Shiroth (jembatan diatas neraka)

⁠⁠⁠Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan proses melawati ash-shirath (jembatan di atas neraka),

“Sekarang pikirkanlah tentang apa yang akan kamu hadapi berupa ketakutan yang ada pada hatimu ketika kamu melihat shirath dan tipisnya shirath itu. Kemudian matamu tertuju pada gelapnya Jahanam yang ada di bawahnya. Lalu telingamu mendengar gemuruh dan gelegak api Jahanam.

Sementara engkau diharuskan melewati shirath itu disertai dengan kondisimu yang sudah lemah dan hatimu yang sudah galau, kakimu juga sudah gemetaran. Sementara pada punggungmu terdapat beban dosa yang memberatimu untuk berjalan di atas muka bumi, terlebih lagi harus melewati shirath yang demikian tipisnya!!
Lanjutkan membaca “Proses manusia melewati Ash Shiroth (jembatan diatas neraka)”

Iklan

Buah Mengimani Takdir

Ditulis oleh al-Ustadz Abdurrahman Mubarak Ata

Di antara rukun iman yang wajib kita imani adalah iman kepada takdir. Iman kepada takdir merupakan perkara yang disepakati kaum muslimin, sampai akhirnya muncullah kelompok bid’ah Qadariyah yang menyempal dari akidah kaum muslimin dalam hal takdir.

Dua orang tabi’in pernah menghadap seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Keduanya mengadu kepada beliau tentang munculnya beberapa orang yang memiliki pemikiran bid’ah dalam masalah takdir, yakni menolak takdir.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:
Lanjutkan membaca “Buah Mengimani Takdir”

Bila Kuburan Diagungkan

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi

Suatu ketika mungkin kita pernah menyaksikan sebuah bus besar membawa rombongan yang di sampingnya terdapat sebuah tulisan “Rombongan Ziarah Makam Sunan Fulan”. Mereka terkadang datang dari tempat yang jaraknya ratusan kilometer, semata hanya ingin berdoa di sisi kuburan Sunan Fulan karena memiliki keyakinan bahwa doanya akan lebih terkabul. Pemandangan seperti ini dan yang sejenisnya banyak dijumpai di sekitar kita. Padahal kalau kita mau menelaah, praktik demikian merupakan perbuatan yang dilarang oleh Islam. Lebih jauh lagi ia merupakan bagian dari perilaku jahiliah, yaitu amalan orang-orang sebelum Islam datang.

Lanjutkan membaca “Bila Kuburan Diagungkan”

Waspada Terhadap Riya

Riya’ adalah menampakkan amalan sholih dalam rangka mencari pujian manusia.

Menampakkan sedekah supaya di puji, menampakkan sholat dan puasa supaya dipuji, berjihad, menuntut ilmu, dan menampakkan berbagai amal ibadah lainnya demi pujian dan sanjungan manusia.

Apa hukumnya?

Riya’ merupakan dosa besar. Karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Lanjutkan membaca “Waspada Terhadap Riya”

Benarkah syafaat diminta kepada selain Allah?

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Banyak hal tentang syafaat yang disalahpahami oleh umat. Bahasan lanjutan ini akan mengupas lebih dalam bagaimana sesungguhnya hakekat syafaat.

Para ulama memasukkan pembahasan ini dalam pembahasan aqidah dan orang-orang yang menyelewengkannya dengan menyimpangkan hakikat syafaat, bakal disikapi dengan keras. Di antara mereka yang menyelewengkannya, ada yang ifrath (berlebihan) dalam memaknainya hingga jatuh dalam syirik besar. Ada juga yang menempuh jalan tafrith (meremehkan) permasalahan, bahkan menyimpangkannya hingga terjatuh dalam sikap menolak sebagian syafaat. Berdasarkan hal ini, para ulama menyebutkan kaidah-kaidah yang terkait dengan syafaat di dalam kitab mereka. Di antaranya:

Lanjutkan membaca “Benarkah syafaat diminta kepada selain Allah?”

Wali Allah dan Wali Setan

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an-Nawawi

Di masyarakat, wali adalah gelar yang memiliki prestise tinggi. Orang yang dianggap sudah mencapai derajat wali, segala tindakan dan ucapannya bak titah raja, harus diterima dan dilaksanakan meski tak jarang melanggar syariat. Mestinya keadaan ini tidak terjadi bila masyarakat paham bahwa tidak semua orang yang dianggap sebagai wali adalah wali Allah ‘azza wa jalla.
Lanjutkan membaca “Wali Allah dan Wali Setan”

Dukun dan ciri-cirinya

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Perdukunan, ramalan nasib, dan sejenisnya telah tegas diharamkan oleh Islam dengan larangan yang keras. Sisi keharamannya terkait dengan banyak hal, di antaranya:

1. Apa yang akan terjadi itu hanya diketahui oleh Allah. Maka seseorang yang meramal berarti ia telah menyejajarkan dirinya dengan Allah dalam hal ini. Ini merupakan kesyirikan, membuat sekutu (tandingan) bagi Allah. Atau;

2. Meminta bantuan kepada jin atau setan. Ini banyak terkait dengan praktik perdukunan dan sihir semacam santet atau sejenisnya.

Praktik sihir, ramal, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut:
Lanjutkan membaca “Dukun dan ciri-cirinya”