Menghadiahkan bacaan Al Qur’an untuk si mayit

Imam Syafi’i rahimahullah berpendapat bahwasanya pahala bacaan al Qur’an tidak bisa sampai kepada mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala

وأن ليس للإنسان إلا ما سعى

“Dan bahwasanya seorang manusia tidaklah mendapatkan melainkan apa yang telah diusahakannya.” ( QS. An Najm:39 )

Dan dengan hadits,
Lanjutkan membaca “Menghadiahkan bacaan Al Qur’an untuk si mayit”

70 Dosa Besar Dalam Islam

Sahabat Nabi Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu Mengisyaratkan bahwa Jumlah Dosa Besar sekitar 70-an. Al-Imam adz-Dzahaby Rahimahullah kemudian Berusaha Mengkaji Dalil-dalil dalam AlQur’an dan As-Sunnah, kemudian Merangkumnya dalam Kitab Berjudul Al-Kabaair. Ada 70 Dosa Besar yang Beliau Tuliskan, yaitu :

Lanjutkan membaca “70 Dosa Besar Dalam Islam”

Larangan menggunakan jimat

عَنِ الْحَسَنِ قَالَ أَخْبَرَنِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا (رواه أحمد)

Dari al-Hasan (al-Bashri) beliau berkata: Telah mengkhabarkan kepadaku Imron bin Hushain bahwa Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam melihat pada tangan seseorang terdapat lingkaran -aku kira- dari kuningan. Kemudian Nabi bersabda: Celaka engkau. Apa ini? Orang itu berkata: Untuk mencegah/menyembuhkan sakit pada bahu. Nabi bersabda: Sesungguhnya itu tidaklah menambahmu kecuali kelemahan. Cabutlah darimu, karena seandainya engkau meninggal pada saat benda itu masih bersamamu, engkau tidak akan selamat selamanya. (H.R Ahmad, dengan sanad yang tidak mengapa (tidak lemah)).

Penjelasan Makna Hadits:
Lanjutkan membaca “Larangan menggunakan jimat”

Kewajiban taat kepada penguasa walaupun dzalim

Catatan sejarah membuktikan, setiap pemberontakan yang tidak dibimbing oleh ilmu syar’i selalu melahirkan kerusakan dan berakhir dengan kekacauan yang lebih besar daripada kezaliman penguasa itu sendiri. Maka, sikap sabar sebagaimana diamanatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, mesti kita miliki ketika kita dihadapkan kepada pemerintahan yang zalim.

Sabar terhadap kezaliman penguasa adalah salah satu prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Majmu’ Fatawa, 28/179, dinukil dari Fiqih Siyasah Syar’iyyah, hlm. 163)

Itulah salah satu ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang terlupakan atau tidak diketahui oleh kaum muslimin yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Hampir seluruh kelompok pergerakan yang muncul di abad ini atau sebelumnya melalaikan prinsip ini. Entah karena lupa, tidak tahu, atau karena sengaja.

Lanjutkan membaca “Kewajiban taat kepada penguasa walaupun dzalim”

Empat kaidah memahami hakikat kesyirikan (Qowa’idul arba)

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulya, Tuhan Penguasa ‘Arsy yang agung, untuk menjadi Penolong bagi anda di dunia dan di akhirat, dan menjadikan anda bermanfaat di manapun anda berada, dan menjadikan anda termasuk orang-orang yang jika diberi bersyukur, jika diuji bersabar, dan jika melakukan perbuatan dosa, beristighfar. Karena sesungguhnya tiga hal tersebut adalah alamat mencapai kebahagiaan.

Ketahuilah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada anda untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya., sesungguhnya al-hanifiyyah , millah Ibrahim adalah peribadatan kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ اْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ ( الذاريات : 56)

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya beribadah kepadaKu (semata)” (Q.S Adz-Dzaariyaat:56).
Lanjutkan membaca “Empat kaidah memahami hakikat kesyirikan (Qowa’idul arba)”

Allah tinggi diatas ‘Arsy sekaligus dekat dengan hambanya

Al-Muzani rahimahullah menyatakan:

عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ فِي مَجْدِهِ بِذَاتِهِ وَهُوَ دَانٍ بِعِلْمِهِ مِنْ خَلْقِهِ أَحَاطَ عِلْمُهُ بِاْلأُمُوْرِ وَأَنْفَذَ فِي خَلْقِهِ سَابِقَ الْمَقْدُوْرِ وَهُوَ الْجَوَّادُ الْغَفُوْرُ { يَعْلَمُ خَائِنَةَ اْلأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ }

Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dalam KemulyaanNya dengan DzatNya. Dia dekat dengan Ilmu-Nya dari hambaNya. IlmuNya meliputi segala perkara. Dan Dia mewujudkan dalam penciptaanNya (sesuai) yang telah ditaqdirkan sebelumnya. Dan Dia Yang Maha Dermawan lagi Maha Pengampun. { Dia Mengetahui pandangan-pandangan mata yang berkhianat dan segala yang disembunyikan (dalam) dada «Q.S Ghafir/ al-Mu’min:19»}

Lanjutkan membaca “Allah tinggi diatas ‘Arsy sekaligus dekat dengan hambanya”

Apa yang dimaksud berpuasa dengan iman dan ihtisab?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.” (متّفقٌ عليه)

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan iimaanan (karena iman) dan ihtisaaban (berharap pahala) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [Muttafaqun ‘Alaih]
Lanjutkan membaca “Apa yang dimaksud berpuasa dengan iman dan ihtisab?”