Thawaf pada kuburan, mengusap-usapnya dan bertabarruk dengannya adalah kesyirikan

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh [Menteri Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi]

Jadi thawaf termasuk ibadah yang paling agung, sementara tidak disyariatkan thawaf kecuali di Baitullah yang suci. Jadi ibadah thawaf hanya khusus di Ka’bah yang dimuliakan. Demikian juga bolak-balik (sa-i) antara Shafa dan Marwah. Sedangkan apa-apa yang ditujukan untuk selain Allah adalah dengan meletakkan ibadah bukan pada tempatnya, mengagungkan kuburan dan menyerupakannya dengan Baitullah, serta memalingkan ibadah thawaf untuk selain Allah.

Lanjutkan membaca “Thawaf pada kuburan, mengusap-usapnya dan bertabarruk dengannya adalah kesyirikan”

Iklan

Alasan mengapa umat islam tidak merayakan tahun baru

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»

”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka.” [ HR. Abu Dawud no.4031, Dari shahabat Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma. Dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rohimahullah dalam Shohih Al-Jami’ no.6149

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah menjelaskan;
Lanjutkan membaca “Alasan mengapa umat islam tidak merayakan tahun baru”

Mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir bisa murtad tanpa sadar

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺎﻷﻋﻴﺎﺩ ﻓﻬﺬﻩ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﻼ ﺷﻚ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ؛ ﻷﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺭﺿﺎ ﺑﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻛﻔﺮ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﻜﺮﺳﻤﺲ، ﺃﻭ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔَﺼْﺢ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻃﻼﻗﺎً

“Adapun mengucapkan selamat hari raya (agama lain), maka ini haram tanpa diragukan lagi, dan bisa jadi seseorang tidak selamat dari kekafiran, karena mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang kafir merupakan bentuk keridhaan terhadap hari raya mereka, padahal ridha terhadap kekafiran merupakan kekafiran, termasuk mengucapkan selamat hari natal atau hari paskah atau yang semisalnya. Jadi semacam ini tidak boleh sama sekali.
Lanjutkan membaca “Mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir bisa murtad tanpa sadar”

Pembahasan seputar kesyirikan

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Kesyirikan tidak hanya terjadi pada zaman jahiliah saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diutus. Kesyirikan juga merebak di masa kini meski dikemas dengan bungkus baru. Kehati-hatian agar tidak terjatuh pada perbuatan syirik sangatlah penting karena Allah ‘azza wa jalla menyebut perbuatan ini sebagai dosa besar yang paling besar dan tidak akan memberi ampunan bagi pelakunya kecuali jika ia telah bertaubat.

Dalam beberapa edisi yang telah lalu, telah dibahas permasalahan seputar akidah, terutama kaitannya dengan pembahasan bagaimana seseorang bisa memperbaiki hubungannya dengan Allah ‘azza wa jalla atau yang diistilahkan dengan ibadah. Pada edisi mendatang insya Allah, akan dibahas suatu permasalahan yang sangat besar yang bisa menjadikan peribadatan seseorang menjadi amalan yang sia-sia bahkan bisa menjadi azab baginya. Itulah lawan dari ibadah yaitu syirik.

Untuk mengawali pembahasan seputar syirik, pada edisi ini akan dipaparkan sejarah kemunculan syirik yang terjadi pada umat manusia. Adapun hakikat kesyirikan itu sendiri, jenis-jenisnya, serta pengaruhnya dalam kehidupan sebagai individu, masyarakat, dan bernegara, akan dibahas pada edisi mendatang, insya Allah. Selain itu, kajian mendatang juga akan membongkar praktik syirik yang berkembang di masyarakat.
Lanjutkan membaca “Pembahasan seputar kesyirikan”

Aqidah harus dipentingkan dan diutamakan

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah,

“Aku nasehatkan kepada para pemuda dan kaum muslimin agar mementingkan aqidah pada prioritas utama dan sebelum segala sesuatu.

Karena aqidah merupakan pondasi yang di atasnya ditegakkan seluruh amalan, apakah amalan tersebut diterima ataukah ditolak.
Lanjutkan membaca “Aqidah harus dipentingkan dan diutamakan”

Mengenal jembatan yang akan dilewati manusia pada hari kiamat

Soal: Apakah yang dimaksud dengan shirath yang dipancangkan di atas Jahanam? Bagaimanakah hukum beriman kepada shirath ini? Dan apakah semua yang melewatinya akan mendapatkan rasa sakit?

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah menjawab,

“Shirath ini adalah jembatan yang Allah pancangkan untuk kaum mukminin. Mereka akan melewatinya untuk menuju jannah.
Lanjutkan membaca “Mengenal jembatan yang akan dilewati manusia pada hari kiamat”

Proses manusia melewati Ash Shiroth (jembatan diatas neraka)

⁠⁠⁠Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan proses melawati ash-shirath (jembatan di atas neraka),

“Sekarang pikirkanlah tentang apa yang akan kamu hadapi berupa ketakutan yang ada pada hatimu ketika kamu melihat shirath dan tipisnya shirath itu. Kemudian matamu tertuju pada gelapnya Jahanam yang ada di bawahnya. Lalu telingamu mendengar gemuruh dan gelegak api Jahanam.

Sementara engkau diharuskan melewati shirath itu disertai dengan kondisimu yang sudah lemah dan hatimu yang sudah galau, kakimu juga sudah gemetaran. Sementara pada punggungmu terdapat beban dosa yang memberatimu untuk berjalan di atas muka bumi, terlebih lagi harus melewati shirath yang demikian tipisnya!!
Lanjutkan membaca “Proses manusia melewati Ash Shiroth (jembatan diatas neraka)”