Hukum memakai biji-biji tasbih

HUKUM MEMAKAI BIJI-BIJI TASBIH

As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah

Telah ditanya Imam, Mujahid Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah :

Banyak manusia memakai biji-biji tasbih sehingga hal ini dianggap sunnah menurut sebagian mereka. Apakah ada dalil yang membolehkan memotongnya?
Lanjutkan membaca “Hukum memakai biji-biji tasbih”

Iklan

Hukum mendengarkan nasyid

MANAKAH YANG LEBIH BERAT DOSANYA; ORANG YANG MENDENGARKAN NYANYIAN ATAUKAH ORANG YANG MENDENGARKAN NASYID

Asy Syaikh Al ‘Allamah Ahmad Bin Yahya An Najmi رحمه الله menjawab :

️Sesungguhnya nyanyian merupakan bentuk maksiat dan orang yang terus-menerus mendengarkannya (dihukumi) fasiq.
Lanjutkan membaca “Hukum mendengarkan nasyid”

Kebid’ahan lebih jelek daripada kemaksiatan

HIKAYAT DARI SALAFUS SHOLIH YANG MENGANDUNG FIQH DI ATAS

Seorang laki-laki datang kepada Yunus Bin Ubaid -salah seorang imam salafus sholih- lalu berkata : “Wahai Abu Abdillah, engkau melarang kami dari bermajlis dengan ‘Amr -yakni Ibnu ‘Ubaid seorang berpemikiran mu’tazilah sesat- padahal anakmu masuk menemuinya”.

Yunus berkata : “Anakku?”. Ia menjawab : “Na’am”.

Maka syaikhpun marah hingga datang putranya lalu ia berkata : “Wahai anakku engkau telah mengetahui pendapatku tentang ‘Amr kemudian engkau masuk menemuinya ?”.
Lanjutkan membaca “Kebid’ahan lebih jelek daripada kemaksiatan”

Hukum meninggikan kuburan dan menghiasinya

Oleh: Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah.

Pertanyaan: Apa hukum meninggikan kuburan, menghiasinya dan apa pengaruh hal itu?

Jawaban: Hukum meninggikan kuburan dan menghiasinya adalah tidak boleh meninggikanya tidak pula menghiasinya, karena itu tergolong perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) yang bisa mengantarkan kepada keyakinan mengagungkannya dan meyakininya. Dalam sebuah hadits :
Lanjutkan membaca “Hukum meninggikan kuburan dan menghiasinya”

Adakah Bid’ah Hasanah?

Banyak alasan yang dipakai orang-orang untuk ‘melegalkan’ perbuatan bid’ah. Salah satunya, tidak semua bid’ah itu jelek. Menurut mereka, bid’ah ada pula yang baik (hasanah). Mereka pun memiliki “dalil” untuk mendukung pendapatnya tersebut. Bagaimana kita menyikapinya?

Di antara sebab-sebab tersebarnya bid’ah di negeri kaum muslimin adalah adanya keyakinan pada kebanyakan kaum muslimin bahwa di dalam kebid’ahan ini ada yang boleh diterima dengan apa yang dinamakan bid’ah hasanah. Pandangan ini berangkat dari pemahaman bahwa bid’ah itu ada dua: hasanah (baik) dan sayyiah (jelek).

Berikut ini kami paparkan apa yang diterangkan oleh asy-Syaikh as-Suhaibani dalam kitab al-Luma’ “Bantahan terhadap Syubhat Pendapat yang Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah”.
Lanjutkan membaca “Adakah Bid’ah Hasanah?”

Mengubur Janazah Di Dalam Masjid Adalah Sarana Kesyirikan

Dengan menyebut nama Allah, segala puji hanya milik-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya, amma ba’du; 

Kami telah membaca “Koran Khurtum” terbitan tanggal 17/4/1415 H. Kami mendapatkan koran tersebut telah memberitakan tentang pemakaman Sayyid Muhammad Al Hasan Al Idris di samping makam ayahnya di dalam masjid mereka di kota Ummu Durman…dll. 

Sesuai dengan perintah Allah untuk saling menasihati sesama kaum muslimin, pengingkaran atas kemungkaran, maka dari itu, saya mengingatkan bahwa pemakaman janazah di dalam masjid adalah dilarang, karena hal itu adalah sarana kesyirikan dan kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam shahihaini dari Aisyah radliallahu anha dari Nabi beliau bersabda:
Lanjutkan membaca “Mengubur Janazah Di Dalam Masjid Adalah Sarana Kesyirikan”

Mewaspadai ajaran sufi

Sufi, selama ini banyak dipahami sebagai gambaran kesederhanaan, kezuhudan ataupun kehidupan yang nyaris tak tersentuh ‘peradaban’. Menilik sejarahnya, nama sufi sebenarnya nisbat dari sekelompok manusia yang beribadah secara berlebihan, dengan berbagai tata cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.

Sejarah Munculnya Tasawuf dan Sufi

Tasawuf () diidentikkan dengan sikap berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia. Penganutnya disebut Shufi  ()(selanjutnya ditulis Sufi menurut ejaan yang lazim, red), dan jamaknya adalah Sufiyyah (). Istilah ini sesungguhnya tidak masyhur di jaman Rasulullah r, shahabat-shahabatnya, dan para tabi’in. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t: “Adapun lafadz Sufiyyah bukanlah lafadz yang masyhur pada tiga abad pertama Islam. Dan setelah masa itu, penyebutannya menjadi masyhur.” (Majmu’ Fatawa, 11/5)

Bashrah, sebuah kota di Irak, merupakan tempat kelahiran Tasawuf dan Sufi. Di mana sebagian ahli ibadahnya mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud, dan wara’ terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah r), hingga akhirnya memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuf/).

Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan “Sufi”, sebagai nisbat kepada Shuf (). Jadi, lafadz Sufi bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di jaman Rasulullah r, karena nisbat kepadanya adalah Shuffi (). Bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah I, karena nisbat kepadanya adalah Shaffi ().

Demikian juga bukan nisbat kepada makhluk pilihan Allah
karena nisbatnya adalah Shafawi (). Dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab) meski secara lafadz bisa dibenarkan. Namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi ini, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani t dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin t, bahwa telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau r biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami t berkata: “Demikianlah munculnya jahiliyyah Tasawuf, dan dari kota inilah (Bashrah) ia tersebar.” (At-Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 5)

Siapakah Peletak Tasawuf?

Lanjutkan membaca “Mewaspadai ajaran sufi”