Mengubur Janazah Di Dalam Masjid Adalah Sarana Kesyirikan

Dengan menyebut nama Allah, segala puji hanya milik-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya, amma ba’du; 

Kami telah membaca “Koran Khurtum” terbitan tanggal 17/4/1415 H. Kami mendapatkan koran tersebut telah memberitakan tentang pemakaman Sayyid Muhammad Al Hasan Al Idris di samping makam ayahnya di dalam masjid mereka di kota Ummu Durman…dll. 

Sesuai dengan perintah Allah untuk saling menasihati sesama kaum muslimin, pengingkaran atas kemungkaran, maka dari itu, saya mengingatkan bahwa pemakaman janazah di dalam masjid adalah dilarang, karena hal itu adalah sarana kesyirikan dan kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam shahihaini dari Aisyah radliallahu anha dari Nabi beliau bersabda:
Lanjutkan membaca “Mengubur Janazah Di Dalam Masjid Adalah Sarana Kesyirikan”

Mewaspadai ajaran sufi

Sufi, selama ini banyak dipahami sebagai gambaran kesederhanaan, kezuhudan ataupun kehidupan yang nyaris tak tersentuh ‘peradaban’. Menilik sejarahnya, nama sufi sebenarnya nisbat dari sekelompok manusia yang beribadah secara berlebihan, dengan berbagai tata cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.

Sejarah Munculnya Tasawuf dan Sufi

Tasawuf () diidentikkan dengan sikap berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia. Penganutnya disebut Shufi  ()(selanjutnya ditulis Sufi menurut ejaan yang lazim, red), dan jamaknya adalah Sufiyyah (). Istilah ini sesungguhnya tidak masyhur di jaman Rasulullah r, shahabat-shahabatnya, dan para tabi’in. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t: “Adapun lafadz Sufiyyah bukanlah lafadz yang masyhur pada tiga abad pertama Islam. Dan setelah masa itu, penyebutannya menjadi masyhur.” (Majmu’ Fatawa, 11/5)

Bashrah, sebuah kota di Irak, merupakan tempat kelahiran Tasawuf dan Sufi. Di mana sebagian ahli ibadahnya mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud, dan wara’ terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah r), hingga akhirnya memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuf/).

Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan “Sufi”, sebagai nisbat kepada Shuf (). Jadi, lafadz Sufi bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di jaman Rasulullah r, karena nisbat kepadanya adalah Shuffi (). Bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah I, karena nisbat kepadanya adalah Shaffi ().

Demikian juga bukan nisbat kepada makhluk pilihan Allah
karena nisbatnya adalah Shafawi (). Dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab) meski secara lafadz bisa dibenarkan. Namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi ini, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani t dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin t, bahwa telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau r biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami t berkata: “Demikianlah munculnya jahiliyyah Tasawuf, dan dari kota inilah (Bashrah) ia tersebar.” (At-Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 5)

Siapakah Peletak Tasawuf?

Lanjutkan membaca “Mewaspadai ajaran sufi”

JIL Tolak Syariat Islam

Penulis: Redaksi Buletin Al-Ilmu

Sekali lagi tentang JIL. Nama sebuah jaringan ini kian tenar, meskipun banyak pihak yang mengecamnya. Sebenarnya kampanye penyatuan agama, “semua agama itu sama”, “sama-sama menyembah Tuhan”, “Islam bukan agama yang paling benar”, yang lebih populer disebut teologi pluralis, sudah cukup sebagai bukti bahwa mereka adalah para pengusung panji-panji kekufuran, yang pelakunya bisa jadi kafir alias murtad.

Kalau kita telusuri lebih dalam lagi tentang gaya pikir JIL, akan terlihat secara jelas tentang program JIL dan siapa JIL sebenarnya dalam situs resmi milik mereka. Secara terbuka mereka gambarkan prinsip JIL yaitu menekankan “kebebasan dan “pembebasan”, karena (kata mereka) Islam disifati dengan 2 sifat tersebut. JIL membangun beberapa landasan tentang penafsiran tertentu atas Islam, diantaranya; membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, mempercayai kebenaran itu relatif, memihak pada yang minoritas dan selainnya. JIL pun percaya diri bahwa misinya akan berhasil yaitu menciptakan struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi, katanya. (http://www.islamlib.com)

Namun umat Islam telah menilai gaya pikir JIL dengan para tokoh-tokohnya adalah sangat membahayakan kemurnian dan keadilan syari’at Islam. Ulil Abshar Abdalla, tokoh JIL telah mengeluarkan pernyataan secara tegas bahwa hukum Tuhan tidaklah ada. (Harian Kompas, tanggal 18 Desember 2002)
Lanjutkan membaca “JIL Tolak Syariat Islam”

Dosa Ikhwanul Muslimin

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Al-Mundzir bin Jarir menceritakan dari ayahnya Jarir bin Abdillah z,
bahwasanya Rasulullah n pernah bersabda:

“Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.”

Hadits yang mulia di atas diri-wayatkan dalam Shahih Muslim no. 2348, 6741, Sunan An-Nasa‘i no.2554, Sunan At-Tirmidzi no. 2675, Sunan Ibnu Majah no. 203, Musnad Ahmad 5/357, 358, 359, 360, 361, 362 dan juga diriwayatkan oleh yang lainnya.

Sunnah Hasanah dan Sunnah Sayyiah
Yang dimaksud dengan sunnah hasanah dalam sabda Rasulullah n: (Siapa yang melaku-kan satu sunnah hasanah dalam Islam) yakni menempuh satu jalan yang diridhai, yang jalan tersebut ada contoh/ asalnya dalam agama ini (bukan perkara yang diada-adakan/ bid’ah) dan akan menjadi contoh bagi orang lain.

Lanjutkan membaca “Dosa Ikhwanul Muslimin”

Bid’ah Hari Raya Ketupat (Hari Raya Al Abrar)

Di antara perkara yang diada-adakan (bid’ah) pada bulan Syawwal adalah bid’ah hari raya Al Abrar (orang-orang baik) (atau dikenal dengan hari raya Ketupat.pent.), yaitu hari kedelapan Syawwal.

Setelah orang-orang menyelesaikan puasa bulan Ramadhan dan mereka berbuka pada hari pertama bulan Syawwal -yaitu hari raya (iedul) fitri- mereka mulai berpuasa enam hari pertama dari bulan Syawwal dan pada hari kedelapan mereka membuat hari raya yang mereka namakan iedul abrar (biasanya dikenal dengan hari raya Ketupat. Pent )

Syaikhul Islam lbnu Taimiyah –Rahimahullah- berkata: “adapun membuat musim tertentu selain musim yang disyariatkan seperti sebagian malam bulan Rabi’ul Awwal yang disebut malam maulid, atau sebagian malam bulan Rajab, tanggal 18 Dzulhijjah, Jum’at pertama bulan Rajab, atau tanggal 8 Syawwal yang orang-orang jahil menamakannya dengan hari raya Al Abrar ( hari raya Ketupat) ; maka itu semua adalah bid’ah yang tidak disunnahkan dan tidak dilakukan oleh para salaf. Wallahu Subhanahu wata’ala a’lam.
Lanjutkan membaca “Bid’ah Hari Raya Ketupat (Hari Raya Al Abrar)”

Imam Ath Thurtusi-Membongkar Kedustaan Kitab Ihya’ Ulumuddin

Imam Ath Thurtusi Membongkar Kedustaan Kitab Ihya’ Ulumuddin
oleh Abu Fairuz

Peran ulama tak semata mengajari muridnya untuk memahami agama. Sebagai pelanjut risalah para nabi, ulama memiliki tanggung jawab nan luhur dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan kapasitas ilmu yang dimiliki serta komitmen untuk menegakkan kebenaran, ulama berada pada garda terdepan. Walau yang dihadapi seorang penguasa, lantaran komitmennya yang tinggi dalam menegakkan kebenaran, seorang ulama mesti tampil menasehatinya. Itulah yang telah dilakukan oleh Imam Ath Thurtusi. Ketika Al Afdhal bin Amir Juyusy, seorang penguasa yang hidup di Mesir yang lekat dengan seorang Nashrani kemudian Imam Ath Thurtusi tandang ke hadapannya. Dibentangkannya kain yang dibawanya di bawah sang penguasa. Lantas ia pun menasehati Al Afdhal bin Amir Juyusy hingga penguasa itu meneteskan air mata. Nasehatnya yang menghujam ke relung kalbu mampu mengubah cara pandang sang penguasa. Al Afdhal bin Amir Juyusy pun akhirnya menjatuhkan putusan untuk mengusir karib Nashraninya itu.

Kepeduliannya untuk senantiasa menasehati penguasa tak sampai di situ saja. Tatkala Makmun bin Al Batha’ihi memegang jabatan menteri di Mesir setelah Al Afdhal bin Amir Juyusy menanggalkan jabatannya, Imam Ath Thurtusi pun menorehkan tinta bagi sang menteri. Lahirlah sebuah buku yang bertajuk Siraj Al Mulk yang diperuntukkan Makmun bin Al Batha’ihi.
Begitulah kiprah Imam At Thurtusi. Keluhuran komitmennya mampu mengantarkannya ke jantung istana kekuasaan dengan tanpa meluruhkan harkat keulamaannya. Kilau ilmu telah menjadikannya bersikap syaja’ah (berani).

Kesahajaan Imam Ath Thurtusi terpancar pula dari kezuhudannya dalam memandang gemerlap dunia. Sanjungan ini banyak diucap oleh para ulama yang hidup sejamannya. Sebutlah misalnya Al Qadli Abu Bakar Ibnul Arabi. Beliau mengungkapkan bahwa Imam Ath Thurtusi adalah seorang yang sarat ilmu, yang menyandang keutamaan, zuhud, dan senantiasa mendahulukan yang teramat penting.

Begitu pula yang dinyatakan oleh Ibrahim bin Mahdi bin Qulaina. Disebutkannya bahwa Imam Ath Thurtusi adalah seorang zuhud dan ibadahnya lebih banyak dari ilmu yang ada padanya. Sederet pujian pun dinyatakan pula oleh Ibnu Basykuwal :

“Dia seorang imam, alim, zahid, wara’, taat beragama, tawadlu, teliti, tidak tamak dunia, dan rela dengan kekurangan,” kata Ibnu Basykuwal.

Lanjutkan membaca “Imam Ath Thurtusi-Membongkar Kedustaan Kitab Ihya’ Ulumuddin”

Atas nama kebebasan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Masih ingatkah argumen yang dilontarkan para pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah saat diseret ke penjara oleh polisi? Satu di antara argumen yang mereka lempar kepada masyarakat, bahwa mereka berpemahaman seperti itu sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

Prinsip kebebasan yang menjadi dasar HAM telah digunakan sebaik-baiknya oleh kalangan Al-Qiyadah. Terlepas dari dibenarkan atau tidak menggunakan prinsip kebebasan tersebut, namun yang nyata bahwa isu HAM telah menjadi tameng bagi aksi-aksi kesesatan dan penyesatan terhadap umat. Isu HAM telah menjadi senjata yang logis yang memberi ruang kepada kelompok-kelompok masyarakat tertentu untuk berpemahaman, bertindak, beramal dan beribadah sesuai dengan apa yang diyakininya. Walaupun keyakinan yang mereka usung tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah alias sesat.

Tak semata itu, banyak kasus yang mengatasnamakan kebebasan lantas bisa eksis di tengah masyarakat. Dengan atas nama kebebasan berekspresi dan seni, seorang artis wanita dengan pakaian seronok, mendedahkan aurat, tampil dengan penuh percaya diri di media-media iklan. Tampilannya yang syur, mengumbar syahwat, dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Ketika sekelompok masyarakat menggugat, maka sanggahannya pun bertameng dengan kebebasan berekspresi dan seni. Lagi, isu HAM telah dijadikan wahana untuk menyebarkan hal tak patut. Terlepas dibenarkan atau tidak alasan demi kebebasan berekspresi dan seni.

Lebih dari ini, sepasang muda-mudi atas nama kebebasan, hidup bersama dalam satu atap, didasari suka sama suka, tak ada paksaan dari siapapun, tak ada pula tekanan dari pihak manapun, mereka menikmati hidup tanpa ikatan nikah yang sah, (katanya) tanpa mengganggu siapapun dan pihak manapun. Maka, keduanya lakukan itu atas nama kebebasan, merupakan hak keduanya untuk saling mencurahkan kasih sayang dan melampiaskan hasrat biologisnya, walau dengan cara zina. Lagi, isu HAM menjadi alasan logis bagi terbukanya ruang perzinaan. Sekali lagi, terlepas dari dibenarkan atau tidak alasan mereka dengan mengatasnamakan kebebasan.

Sisi lain, atas dasar kebebasan mengemukakan pendapat secara lisan atau tulisan di muka umum, lantas dengan berarak mengerahkan massa turun ke jalan-jalan. Melakukan orasi yang berisi pembeberan “aib” pejabat atau pemerintah. Jalanan menjadi macet, seakan republik ini cuma mereka yang menghuni. Hajat sekian ratus, ribu bahkan jutaan manusia menjadi terhambat, terganggu dan bahkan terlanggar. Sekali lagi, semua itu dilakukan atas nama kebebasan. Lanjutkan membaca “Atas nama kebebasan”