Hukum Membunuh Lebah

Asy-Syaikh Muhammad Ali Farkus hafidzahullah
Jawaban :

Telah datang larangan membunuh lebah dalam hadisnya Ibnu Abbas bahwa beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk membunuh empat binatang, yaitu semut, lebah, burung hud-hud dan shurod.

Dilarangnya membunuh binatang-binatang ini karena akan menyia-nyiakan harta dan menghalangi dari kebaikan yang ada padanya seperti madu, lilin dan selainnya.
Lanjutkan membaca “Hukum Membunuh Lebah”

Iklan

Suami mandul, istri minta cerai

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Ada seorang wanita yang telah menikah, tetapi belum juga mengandung. Setelah dilakukan pemeriksaan medis, ternyata masalahnya ada pada suaminya (mandul), karenanya keduanya tidak mungkin bisa memiliki keturunan. Apabila keadaannya demikian, bolehkah si istri meminta cerai?
Lanjutkan membaca “Suami mandul, istri minta cerai”

Menyembunyikan aib sebelum pernikahan

Pertanyaan: Terkait aib yang tersembunyi, apakah harus di jelaskan terlebih dahulu pada calon pasangan sebelum di adakannya pernikahan?

Dijawab Oleh: Al-Ustadz Qomar Su’aidi Lc -hafizhahullah-

Tanya Jawab Kajian Islam Ilmiyah Semarang || Ahad 08 Jumadil Ula 1438H/05 Februari 2017M

Link : https://app.box.com/s/n4j4k1t15hor0n1wzlhow3zwm09803z8

WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Beberapa permasalahan seputar puasa arofah

BEBERAPA PERMASALAHAN SEPUTAR PUASA AROFAH

KEUTAMAAN PUASA ‘AROFAH

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Puasa hari arofah aku berharap kepada Allah agar ia dapat menghapus (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.” (HR. Muslim)

HUKUM PUASA AROFAH BAGI SELAIN JAMA’AH HAJI

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata,
“Puasa hari arofah bagi selain jama’ah haji adalah sunnah mu’akkadah.” (Majmu’ Fatawa 20/46)

PUASA AROFAH BERTEPATAN DENGAN HARI JUM’AT

Al Lajnah Ad-Daimah menjelaskan,
” Disyari’at puasa hari arofah bila bertepatan dengan hari jum’at walaupun tanpa didahului puasa hari sebelumnya. Karena telah diriwiyatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam himbauan untuk melakukannya dan penjelasan keutamaannya dan agungnya pahalanya” (Fatawa Al Lajnah 10/395)
Lanjutkan membaca “Beberapa permasalahan seputar puasa arofah”

Bolehkah berkurban untuk orang yang telah meninggal

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Pertanyaan: Banyak orang yang memiliki perhatian terhadap kurban untuk orang telah meninggal, sama saja apakah ada wasiat atau tidak, bagaimana bimbingan Anda?

Jawaban: Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyembelih kurban untuk diri beliau sendiri dan keluarganya, dan beliau tidak membedakan antara orang yang masih hidup atau yang telah meninggal. Maka itu menunjukkan bahwa jika beliau menyembelih kurban berarti kurban tersebut untuk diri beliau dan keluarganya. Yang termasuk keluarga adalah ayah yang telah meninggal, ibu yang telah meninggal, istrinya, atau anak-anaknya. Karena beliau menyembelih kurban untuk diri beliau dan keluarganya.
Lanjutkan membaca “Bolehkah berkurban untuk orang yang telah meninggal”

Beberapa hukum tentang puasa Syawal

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullahu Ta’ala

Dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari dari bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Muslim)

Beliau menjelaskan,
Lanjutkan membaca “Beberapa hukum tentang puasa Syawal”

Wanita Hamil dan Menyusui yang Tidak Berpuasa Ramadhan, Apakah yang Harus Dilakukan: Mengganti atau Membayar Fidyah?

Secara asal, jika mampu melaksanakan puasa, ibu hamil atau menyusui tetap berpuasa. Namun, jika tidak mampu karena kondisi fisiknya lemah atau mengkhawatirkan kondisi anak (janin atau yang disusui), ada keringanan bagi mereka untuk tidak berpuasa.

Bagaimana jika mereka tidak berpuasa? Apakah mengganti di hari lain atau membayar fidyah?

Permasalahan ini termasuk yang menjadi ranah perbedaan pendapat para Ulama. Hal ini disebabkan tidak adanya dalil yang shahih dan shorih (tegas) dalam alQuran atau hadits sebagai pemutus perkara. Tidak mengherankan jika sulitnya permasalahan ini menyebabkan seseorang bisa berubah pendapat dari satu pendapat ke pendapat lain.

Ada dalil hadits yang shahih dari Nabi, namun tidak shorih (tegas), yaitu hadits:

Lanjutkan membaca “Wanita Hamil dan Menyusui yang Tidak Berpuasa Ramadhan, Apakah yang Harus Dilakukan: Mengganti atau Membayar Fidyah?”