Ilmu adalah barang dagangan yang mahal

Asy Syaikh Dr. Muhammad Bin Ghalib Al ‘Umary حفظه اللّٰه berkata :

️Apabila ahlud dunya tenggelam dalam dunia mereka, dan ahlus syahwat pergi dengan syahwat mereka, Maka sesuatu terbesar yang diinginkan oleh seorang penuntut ilmu dan perkara terbesar yang ia bergembira dengannya ialah menuntut ilmu dan berupaya mendapatkannya.
Lanjutkan membaca “Ilmu adalah barang dagangan yang mahal”

Haruskah menunggu mati untuk mempercayai

نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكرةً

“Kami menjadikan api itu untuk peringatan” ( Al Waqiah : 73 )

Ditafsirkan oleh Al Imam Mujahid dan yang lainnya ;

Yakni api di dunia mengingatkan api neraka

Tafsir At Thobari 22 /355

Para salaf jiwa mereka selalu diselimuti rasa takut dari api neraka, rasa takut membuat mereka tidak bisa tidur lelap, rasa takut menahan mereka dari makan dan minum
Lanjutkan membaca “Haruskah menunggu mati untuk mempercayai”

Meruginya orang yang tidak menuntut ilmu agama

بسم الله الرحمن الرحيم

Diantara perkataan Fadhilatu al-‘Allamah Al-Mufassir Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di -semoga Allah merahmati beliau- Beliau berkata:

“Wahai orang-orang yang berpaling dari menuntut ilmu.. Apa ‘udzur ( alasan) kalian di sisi Allah, Sedangkan kalian dalam keadaan  sehat wal’afiat dan bersenang-senang..!?

Apa yang menghalangi kalian darinya( dari menuntut ilmu agama)…, padahal kalian dalam keadaan diberi rizki oleh Rabb kalian (sehingga) kalian bisa menggembala(binatang ternak kalian)… Lanjutkan membaca “Meruginya orang yang tidak menuntut ilmu agama”

Hakikat ikhlash dalam doa

Asy-Syaikh Musthafa Mabram hafizhahullah berkata:

الإخلاص كما يَظنُّه البعض أنَّك لا تُرائي في الدُّعاء.
يظنَّ البعض أنَّه يدعو في مكانٍ لا يراه فيه النَّاس، نعم هذا نوعٌ من الإخلاص؛ لكنَّ حقيقة الإخلاص أن تُخَلِّص قلبك لله سبحانه تعالى في ظُلمة، بمعنى أنَّه لا يكون في قلبك التفاتٌ للأسباب أبدًا في حال الدُّعاء.
لماذا نقول حتَّى للأسباب؟!
لأنَّه لا يعلم هذه الأسباب وما حالها ومتَى ستكون ومن الَّذي سيُقدِّرها إلَّا الله -جلَّ وعلا-؛ فقد تعتقد في زيدٍ من النَّاس أنَّه هو السَّبب ويكون السَّببُ في عَمرو.
ولهذا الإخلاص ليس حقيقته أن تدعو في مكانٍ لا يراك فيه أحد، وإنَّما حقيقة الإخلاص أن تدعو وإن كنت في وضح النَّهار بقلبٍ لا يلتفت إلى غير الله.

“Ikhlash menurut persangkaan sebagian orang adalah engkau tidak berbuat riya’ ketika berdoa. Jadi sebagian orang menyangka bahwa ikhlash adalah dengan dia berdoa di sebuah tempat yang tidak dilihat oleh seorang pun. Ya, ini memang salah satu jenis ikhlash, tetapi hakekat ikhlash adalah dengan engkau membersihkan hatimu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kegelapan, yang maknanya sama sekali tidak ada dalam hatimu perasaan berpaling atau menoleh kepada sebab-sebab ketika berdoa.
Lanjutkan membaca “Hakikat ikhlash dalam doa”

Jangan terpukau dengan dunia

Salah satu faktor yang dapat membantu seorang muslim untuk tetap kokoh, tegar, dan tabah di atas kebenaran adalah tidak terpukau dan silau dengan kehidupan duniawi di sekelilingnya. Biarlah “keindahan” duniawi mereka kejar dengan penuh ambisi dan nafsu angkara. Adapun baginya, kehidupan akhirat lebih baik. Umar bin al-Khaththab (Shahih Muslim no. 1479) pernah menemui Rasulul Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam ruang khusus beliau. Melihat kesederhanaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekas tikar kasar yang tampak terlihat di pinggang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar radhiyallahu ‘anhu pun menangis. Lanjutkan membaca “Jangan terpukau dengan dunia”

Tingkatan Manusia Dalam Sholat

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim Rohimahullah Ta’ala :

Ada lima tingkatan manusia dalam mengerjakan sholat:

1. Tingkatan orang yang zhalim kepada dirinya dan teledor. yaitu, orang yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu shalatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.

2. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya. Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya. Lanjutkan membaca “Tingkatan Manusia Dalam Sholat”

Dunia bagaikan bunga yang cepat layu

Allah ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka berupa bunga kehidupan dunia…” [Thaha : 131]

Berkata Syaikh ibnu Utsaimin rahimahullah : Lanjutkan membaca “Dunia bagaikan bunga yang cepat layu”