Hikmah


Berkata Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah:

“Musibah yang menimpa kaum muslimin lebih banyak daripada yang menimpa orang-orang kafir, yang demikian itu dikarenakan kaum muslimin diuji dan disucikan (dari dosa-dosa) dengan musibah, adapun orang kafir maka musibah itu adalah tambahan adzab baginya.

Hukuman untuk kaum muslimin terbatas di dunia sedangkan orang-orang kafir hukumannya di akherat, oleh sebab itu hukuman mereka di dunia sedikit, justru mereka banyak bersenang-senang di dunia ini.

(lebih…)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

Bersemangatlah wahai saudaraku dalam membersihkan hatimu sebelum kebersihan anggota tubuhmu. Berapa banyak manusia yang mengerjakan shalat, berpuasa, bershadaqah, berhaji namun hatinya rusak.

Dan inilah mereka (kaum teroris) khawarij yang telah dibicarakan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam;

(lebih…)

Yang mulia Syaikh Al Allamah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata :

Ketahuilah, sesungguhnya jikalau engkau berdoa untuk meminta sesuatu kepada Allah maka engkau pasti akan beruntung dalam setiap keadaannya.

Karena bisa jadi Allah -subhanahu wa ta’ala- mengabulkan (secara langsung) apa yang engkau minta atau Allah menghindarkan dirimu dari kejelekan yang lebih besar atau Allah menjadikannya sebagai tabungan pahala pada hari kiamat.

(lebih…)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

“Kemarahan dapat mengakibatkan perubahan zhahir dan batin, seperti perubahan warna (kulit wajah memerah), gemetar pada kaki dan tangan, kehilangan kendali dan perubahan diri, sehingga apabila ia menyadari keadaan dirinya ketika marah maka ia akan MALU karena KEJELEKAN RUPANYA dan perubahan dirinya, ini semuanya pada zhahir.

Adapun batin maka kejelekannya lebih parah daripada zhahir, karena kemarahan itu melahirkan kedongkolan di hati, hasad, merencanakan kejelekan dalam berbagai bentuknya, dan memang yang lebih jelek adalah keadaan batinnya, sebab perubahan zhahirnya adalah buah perubahan batinnya. Dan ini semuanya adalah pengaruh jelek kemarahan bagi tubuh.

(lebih…)

Di negeri Indonesia kita tercinta ini, merokok bukan hal yang dilarang. Bebas mau merokok di mana saja, kapan saja. Iklan rokok -meskipun tidak boleh mempertontonkan adegan menghisap rokok secara eksplisit- berjamur di mana-mana. Akibatnya, tak sedikit dari pemuda Indonesia ini yang terkena imbasnya. Tercatat, 80 % perokok Indonesia berusia kurang dari 19 tahun berdasarkan survei ITCN (International Tobacco Control Network) pada tahun 2007. Sedangkan, dalam survei yang sama, perokok umur 5-9 tahun mendapatkan persentase 0,4 persen pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 1,8 persen pada tahun 2004. (Antara News)

Pemerintah sebenarnya telah mengambil langkah untuk mengatasi hal ini. Namun, nampaknya langkah pemerintah ini kurang greget. Tulisan “PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN” yang wajib tercantum dalam bungkus dan iklan rokok, justru menjadi kotak pandora yang semakin membuat penasaran benar nggak sih peringatan itu, Fulan si tetangga sehat-sehat saja kok, mbah-mbah yang di kampung sebelah juga masih bugar meski nggak absen menghisap rokok. Tambah lagi bombardir iklan yang terpampang di ruas jalan-jalan utama. Nah lo…

(lebih…)

Seandainya kalbu:

1) merenungi kefanaan kehidupan dunia dan tidak langgengnya kesenangan-kesenangan yang ada padanya, dan akan berakhirnya berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya, sambil menghadirkan kesempurnaan kenikmatan dan kelezatan akhirat, keabadian kehidupan padanya;

2) merenungi pula kelebihan dan keutamaan kenikmatan akhirat atas kenikmatan dunia; dan meyakini dengan pasti tentang benarnya kedua pengetahuan ini, maka renungannya akan menghasilkan pengetahuan yang ketiga:

Akhirat dengan kenikmatannya yang sempurna dan kekal abadi tentu lebih pantas diutamakan oleh setiap orang yang berakal daripada kehidupan dunia yang fana dan menipu.

Dalam hal pengetahuan tentang akhirat, ada dua keadaan manusia:

(lebih…)

Ketahuilah, rahimakumullah, sungguh kelezatan yang dirasakan pelaku maksiat saat menikmati kemaksiatan yang diperbuatnya itu telah bercampur di dalamnya berbagai macam keburukan yang tentu mengakibatkan rasa pedih setelah selesai menikmatinya.

Jika faktor pendorong kemaksiatan semakin menguat dalam dirimu. Maka pikirkanlah bahwa ia pasti akan lenyap, tidak berbekas sama sekali, sedangkan keburukan dan rasa sakit yang dihasilkan olehnya akan tetap membekas dan terasa pedihnya.

Kemudian timbanglah dengan seksama antara dua hal ini, lalu perhatikan perbedaan mencolok yang ada pada keduanya.
(lebih…)

Laman Berikutnya »