Khilafah khayalan para hizbiyin dan pergerakan-pergerakan islam

Berkata Syekh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah :

Dan mereka (para hizbiyyin dan pergerakan-pergerakan islam) ini menginginkan untuk menegakkan daulah islamiyah.

Padahal mereka belum membersihkan negri-negri islam dari berbagai bentuk akidah-akidah watsaniyah (akidah berhala) yang berlangsung(diberbagai negri) berupa peribadahan kepada orang-orang yang sudah mati dan menggantungkan diri kepada kuburan-kuburan. Lanjutkan membaca “Khilafah khayalan para hizbiyin dan pergerakan-pergerakan islam”

Iklan

Awas!! Deklarasi Khilafah Islamiyyah Khayal di Iraq!!

Baru-baru ini,  orang-orang dungu dari kalangan Khawarij di Iraq, membikin “kejutan” baru lagi dengan mendeklarasikan apa yang mereka sebut sebagai “Khilafah Islamiyyah” sebagai ganti dari ad-Daulah al-Islamiyyah fi al-Iraq wa asy-Syaim (DAIS) atau Islamic State in Iraq and Syam (ISIS). “Khilafah Islamiyyah” merupakan sebuah nama yang benar-benar mengundang simpati kaum muslimin secara luas. Membuat banyak pihak terkecoh dan terpesona, bahkan tertipu dengannya. Sehingga tidak jarang dari mereka yang turut mengelu-elukan, dan menganggap bahwa asy-Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi al-Husaini yang dibai’at dan dinobatkan sebagai khalifah tersebut, benar-benar sebagai khalifah Islam. Tanpa mereka (kaum muslimin tersebut) mengetahui apa hakekat sebenarnya “Daulah Islamiyyah” atau pun “Khilafah Islamiyyah” itu, yang didirikan tidak lain oleh orang-orang khawarij. Belum apa-apa,  sudah ada pernyataan, bahwa mereka bersumpah akan menghancurkan Ka’bah jika berhasil menguasai Arab Saudi. Mereka menyatakan Ka’bah menyebabkan seseorang “menyembah batu selain Allah”.  Lahaula wala Quwwata illa billah!
Lanjutkan membaca “Awas!! Deklarasi Khilafah Islamiyyah Khayal di Iraq!!”

Upaya Penegakan Syari’at Islam Mengapa Gagal?

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Luqman Baabduh)

Permasalahan ini adalah salah satu pokok penting yang harus segera dijawab demi tercapainya upaya dan cita-cita kita menegakkan syariat Islam. Berbagai upaya untuk menegakkannya telah dilakukan oleh banyak pihak dengan beragam cara dan sistem, namun tidak ada hasil selain kegagalan dan kegagalan. Bahkan, yang muncul adalah berbagai efek negatif yang merugikan umat Islam.

Dalam pembahasan kali ini kita akan mencoba mendiskusikan sebab-sebab yang mengantarkan kepada kegagalan, untuk kemudian dicarikan solusinya sesuai dengan bimbingan ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta contoh teladan dari generasi as-salafush shalih.

Sebab-sebab Kegagalan

Lanjutkan membaca “Upaya Penegakan Syari’at Islam Mengapa Gagal?”

Pengepungan dan syahidnya Utsman

Pengepungan terhadap Utsman pada awalnya tidak begitu ketat, sehingga beliau masih bisa keluar dan mengimami shalat serta khutbah Jum’at. Pada suatu hari ketika beliau sedang berkhutbah, berdirilah seorang yang bernama Jahjah dan merebut tongkat yang beliau gunakan untuk bersandar ketika berkhutbah -tongkat yang beliau gunakan adalah tongkat peninggalan Rasulullah r– Kemudian dia patahkan tongkat itu dengan lututnya, sehingga ada serpihan kayu yang masuk ke lututnya. Hal ini menyebabkan dia tertimpa penyakit Akilah (1) Kemudian terjadilah saling lempar-melempar batu diantara manusia. Utsman pun tidak luput dari Iemparan, sehingga beliau jatuh pingsan lalu dibawa ke rumahnya.

Semenjak itulah, pengepungan semakin ketat. Mereka melarangnya untuk mengimami di Masjid (Nabawi) yang pernah beliau perluas dengan menggunakan hartanya sendiri. Bahkan mereka melarang beliau untuk minum dari air sumur Rumah yang jernih airnya. Padahal beliaulah yang membeli sumur itu lalu mewakafkannya untuk kepentingan kaum muslimin.

Maka Utsman hanya shalat di rumahnya dan minum dari sumur yang ada di rumahnya (yang airnya asin seperti air laut). Lanjutkan membaca “Pengepungan dan syahidnya Utsman”

Pergerakan ahlul fitnah dan sikap Utsman terhadap mereka

Pada tahun 33 H, sebagian penduduk Kufah, yang tersohor adalah Al Asytar an Nakho’i, Kumail bin Ziyad, Amr bin al Hamiq al Khuzaai dan Sho’shoah bin Shouhan berbicara di hadapan Al Qurro’ (golongan kedua) dan pemuka masyarakat dengan pembicaraan yang sangat jelek dan keji yang berisikan celaan terhadap Utsman serta celaan terhadap kebijakan dan sistem pemerintahan yang dijalankannya. Mereka pun mencela gubernur Kufah, dengan anggapan bahwa tindakan tersebut adalah amar ma’ruf nahi munkar. Karena inilah mereka diusir oleh Utsman ke Syam. Di Syam inilah mereka mulai menulis surat kepada orang-orang yang sepaham dengan mereka, baik yang berada di Bashrah, Mesir maupun Kufah.

Akibatnya gubernur Kufah yaitu Sa’id bin Al ‘Ash diusir oleh penduduknya. Al Asytar berkata : “Demi Allah, dia (Sa’id bin Al Ash) tidak akan bisa masuk ke Kufah selama pedang-pedang kami masih terhunus.” Kemudian mereka menunjuk gubernur sendiri, yaitu Abu Musa Al ‘Asyari yang kemudian disetujui oleh khalifah Utsman.

Pada musim haji tahun 35 H, datang utusan dari penduduk Kufah, Bashrah dan Mesir.Mereka menuntut beberapa hal dari Utsman, kesemuanya berkisar tentang harta. Hal ini juga pernah mereka tuntutkan kepada Umar, akan tetapi beliau menolaknya. Ada sebuah riwayat yang shahih yang menceritakan, pada saat Utsman dikepung, dia berkata :Adakah di tengah-tengah kalian dua putra Mahduuj? Demi Allah bukankah kalian berdua mengetahui bahwa Umar telah berkata : “Sesungguhnya Rabi’ah adalah orang fajir dan pengkhianat, demi Allah aku tidak akan menyamakan pemberian gaji dirinya dengan yang lainnya…..”

Kemudian Utsman berkata : “Bukankah beberapa waktu yang lalu aku telah menambah bagian kalian lima ratus, sehingga bagian kalian sama?” Maka mereka menjawab : “Benar.” Kemudian Utsman mengingatkan mereka bahwa dia telah menuruti permintaan mereka untuk memberhentikan gubernurnya dan menggantinya sesuai dengan keinginan mereka. Mereka pun mengatakan : “Ya, benar”. Maka Utsman berdoa : “Ya, Allah, seandainya mereka mengingkari dan mengkufuri perbuatan baikku, maka jangan sekali-kali Engkau jadikan mereka ridha terhadap setiap pemimpin mereka dan jangan sekali-kali Engkau jadikan pemimpinnya ridha terhadap mereka”.(1) Lanjutkan membaca “Pergerakan ahlul fitnah dan sikap Utsman terhadap mereka”

Fitnah Pada Masa Utsman Bin Affan

Sesungguhnya awal mula permasaJahan yang dihadapi oleh umat Islam pada waktu itu, sebagian besar berasal dari tiga golongan :

1. Golongan Pertama

Islamnya sebagian orang-orang Persia (awalnya mereka beragama Majusi) dan juga sebagian orang-orang Yahudi. Pada hakikatnya mereka adalah orang-orang zindiq yang menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya. Sebagian besar mereka berasal dari negara adi kuasa (Persia dan Romawi) yang merasa iri dan benci kepada bangsa Arab, karena sebagian dari mereka (bangsa Arab) pada masa lampau merupakan pengikutnya. Bangsa Arab adalah bangsa yang dilupakan dan tidak diperhitungkan oleh bangsa lain. Mereka seakan-akan telah terkubur di gurun pasir dan disibukkan dengan perselisihan dan perang saudara. Kemudian bangsa Arab mampu menggulingkan dan meruntuhkan negara mereka dalam jangka waktu yang relatif singkat menurut ukuran strategi dan kondisi peperangan pada waktu itu.

Oleh karena itulah mereka memasang tipu daya dan taktik -mereka adalah orang yang sangat berpengalaman dalam hal ini- untuk mengobarkan api fitnah di tengah-tengah kaum muslimin (seperti api yang sebagiannya memakan sebagian yang lain). Pernyataan ini bukan hanya sekedar omong kosong dengan tujuan mengkambing hitamkan orang lain atas apa yang menimpa kita, akan tetapi berdasarkan dalil-dalil dan bukti yang kuat.

Tipu daya mereka bisa diringkas dalam beberapa poin sebagai berikut: Lanjutkan membaca “Fitnah Pada Masa Utsman Bin Affan”

Detik-detik Syahidnya Utsman bin Affan

Pada hari Kamis 11 Dzulhijjah 35 H, Utsman bermimpi yang menandakan telah dekat ajalnya. Dia melihat Rasulullah berkata : “Wahai Utsman berbukalah bersama kami”. Maka Utsman berpuasa pada hari Jum’at. Dalam riwayat lain disebutkan : “Engkau akan hadir shalat Jum’at bersama kami”.

Pada riwayat lain : “Wahai Utsman, mereka mengepungmu? Maka aku menjawab: “Ya” Beliau berkata :”Mereka membuatmu kehausan? Maka aku menjawab : “Ya” Lalu beliau mengulurkan ember yang berisi air, kemudian aku minum sampai hilang dahagaku. Sampai-sampai aku merasakan sejuknya air di sela-sela dada dan dua pundakku. Rasulullah berkata padaku :

“Apabila engkau memerangi mereka maka engkau akan menang. Apabila engkau membiarkan mereka maka engkau akan berbuka di tempat kami”.

Maka Utsman, berserah diri kepada takdir Allah karena mengharapkan janji Allah dan rindu terhadap Rasulullah. Dia ingin menjadi anak Adam yang paling baik. Utsman berkata (kepada para shahabat) : “Aku bersumpah, bagi semua orang yang merasa wajib taat kepadaku tahanlah diri-diri kalian dan pulanglah ke rumah masing-masing”.

Dia pun berkata kepada budak-budaknya : “Barangsiapa yang menyarungkan pedangnya, maka dia merdeka”. Utsman meminta mushaf dan dibentangkan di hadapannya, lalu beliau shalat dua rakaat dan duduk membaca Al Qur’an. Lanjutkan membaca “Detik-detik Syahidnya Utsman bin Affan”