Arsip

Tafsir Surat Yasin (Bag. 3)

Ayat Ke-5 Surat Yaasin

تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ

Arti Kalimat: (al-Quran ini) diturunkan (oleh) Yang Maha Mulya lagi Maha Penyayang

Ayat ini menunjukkan bahwa al-Quran itu diturunkan oleh Allah. Penggunaan kata ‘diturunkan’ menunjukkan salah satu dari sekian banyak sisi pendalilan dalam al-Quran bahwa Allah itu berada di atas. Menunjukkan ketinggian Allah. Al-Quran adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, sebagaimana akidah yang disepakati Ulama Ahlussunnah.

Penggunaan lafadz ‘tanzil’ yang merupakan bentuk masdar dari kata ‘nazzala’ menunjukkan bahwa al-Quran itu diturunkan secara berangsur-angsur, tidak sekaligus.
Baca lebih lanjut

Tafsir Surat Yaasin (Bag Ke-2)

Ayat Ke-3 Surat Yaasiin

إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3)

Arti Kalimat: Sungguh engkau (wahai Muhammad) termasuk Rasul yang diutus

Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah Rasul. Kalimat pada ayat ke-3 ini nampak jelas adanya 3 penguatan/ penegasan, yaitu (i) huruf inna, (ii) huruf lam taukid, (iii) sumpah pada ayat sebelumnya.

Ayat ini adalah bantahan bagi kaum kafir Quraisy yang mengingkari dan mendustakan bahwa Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah seorang Rasul. Baca lebih lanjut

Tafsir Surat Yasin (Bag. 1)

Surat Yaasin adalah Makkiyyah. Maksudnya, surat tersebut diturunkan saat periode sebelum Hijrah.

Pembagian surat menjadi Makkiyah dan Madaniyyah adalah berdasarkan periode, bukan berdasarkan tempat turunnya ayat. Jika diturunkan di masa sebelum hijrah, maka itu adalah Makkiyah. Jika diturunkan setelah hijrah, maka itu adalah surat Madaniyyah.

Salah satu ciri khas surat-surat Makkiyyah adalah pada uslub (gaya penyampaian) yang lebih kuat dan lebih fasih dengan ketinggian bahasa, karena yang dihadapi adalah orang-orang kafir (para penentang) asli Arab. Berbeda dengan ayat-ayat dalam surat Madaniyyah yang bahasanya tidak demikian, karena yang diajak bicara adalah orang-orang beriman atau Ahlul Kitab yang tidak perlu diajak bicara dengan gaya penyampaian seperti pada orang-orang Arab asli yang menentang. Baca lebih lanjut

Faedah Surat An-Naba’ (1-3)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

عم يتساءلون

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”

Yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, begitu para ahli tafsir mengatakan. Walaupun kata ‘orang-orang musyrik’ belum disebutkan sebelumnya. Karena ini saja baru ayat pertama. Namun, dipahami dari konteks dalam surat ini. Baca lebih lanjut

Tadabbur Surat Al Insan Ayat 18-22

✅AYAT KE-DELAPAN BELAS

عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا (18)

Mata air di dalamnya yang dinamakan Salsabila (18)
Sebagian Ulama’ menjelaskan bahwa Salsabila adalah sebutan untuk sesuatu yang mudah ditelan (sebagaimana penjelasan Ibnul Anbary, disebutkan pula dalam Tafsir Jalalain)

✅AYAT KE SEMBILAN BELAS

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا (19)

Dan mereka dikelilingi oleh anak-anak kecil yang kekal. Jika engkau melihat mereka (anak-anak kecil itu), engkau akan menyangka itu adalah mutiara yang bertaburan (tersebar)(19) Baca lebih lanjut

Tadabbur Surat Al Insan Ayat 13-17

✅AYAT KE-TIGA BELAS

مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا (13)

Di sana mereka duduk bersandar di atas sofa-sofa, di sana mereka tidak melihat (merasakan) terik matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan (13)

Orang-orang beriman menikmati buah kesabaran yang dilakukan di dunia dengan duduk bersandar, sikap duduk penuh kelapangan, nyaman, santai, menikmati, dan kemewahan di atas dipan/ sofa yang dihias dengan penuh keindahan. Hawa yang dirasakan sangat nyaman dan menyenangkan. Tidak akan pernah merasakan lagi panas yang sangat yang menyengsarakan atau membikin gerah, tidak pula dingin yang sangat yang membikin sakit atau membinasakan. Baca lebih lanjut

Tadabbur Surat Al Insan Ayat 7-12

✅AYAT KE-TUJUH

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (7)

Mereka memenuhi nadzarnya dan takut terhadap hari (kiamat) yang keburukan (adzabnya) merata di mana-mana (7)

Nadzar adalah mewajibkan diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu. Secara asal, hukum nadzar adalah makruh, namun jika telah terlanjur bernadzar untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah, wajib untuk menjalankannya. Baca lebih lanjut