Nasehat agar menjauhi para hizbiyyin

Berkata al-‘Allamah Muqbil al-Wadi’i rahimahullah:

“Dan di dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-‘Asy’ari radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala aalihi wa Sallam:

“مثل الجليس الصالح وجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير ، فحامل الـمسك إما أن يحـذيك ، وإما أن تبتاع مـنه ، وإما أن تجد منه ريحاً طيبة ، ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك ، وإما أن تجد منه ريحاً منتنة.”

“Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi (misik) dan peniup api. Seorang teman duduk yang shalih ibarat penjual minyak wangi, sehingga boleh jadi ia akan memberimu (yakni memberimu sebagian minyak wanginya) atau boleh jadi engkau akan membeli darinya atau setidaknya engkau akan mendapatkan aroma yang baik selama engkau bersamanya.
Lanjutkan membaca “Nasehat agar menjauhi para hizbiyyin”

Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.

Shufi, Syi’ah, Pluralisme, Mu’tazilah, dan lain-lain masing-masingnya jelas berbeda. Namun apa jadinya jika semua kelompok menyimpang ini dijadikan satu? Jadilah ia Ikhwanul Muslimin (IM).

Gerakan Ikhwanul Muslimin yang mendominasi dakwah pergerakan-pergerakan di Mesir, gaungnya tidak hanya terdengar di negeri asalnya. Namun “dakwah”-nya telah mendunia, masuk ke penjuru-penjuru negeri di hamparan bumi ini. Termasuk tanah air kita, Indonesia, meski tentu saja dengan nama yang berbeda.

Pemikiran dan buku tokoh-tokoh mereka, semacam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, Said Hawwa, Fathi Yakan, Yusuf Al-Qardhawi, At-Turabi tersebar luas dengan berbagai bahasa, sehingga sempat mewar-nai gerakan-gerakan dakwah di berbagai negara.
Lanjutkan membaca “Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin”

Orang yang sia-sia puasanya

ORANG INI BERPUASA NAMUN SEJATINYA TIDAK BERPUASA.LHO KOK BISA…?

Berkata al-Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafidzahullah:

Terkadang seseorang yang berpuasa dia merasakan sangat lapar, haus, dan letih. Namun dia tidak mendapatkan pahala sedikitpun di sisi ALLAH ‘Azza wa Jalla

Karena ia mengucapkan ucapan yang haram disaat berpuasa. (Misalnya dusta dan ghibah)
Lanjutkan membaca “Orang yang sia-sia puasanya”

Empat kaidah memahami hakikat kesyirikan (Qowa’idul arba)

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulya, Tuhan Penguasa ‘Arsy yang agung, untuk menjadi Penolong bagi anda di dunia dan di akhirat, dan menjadikan anda bermanfaat di manapun anda berada, dan menjadikan anda termasuk orang-orang yang jika diberi bersyukur, jika diuji bersabar, dan jika melakukan perbuatan dosa, beristighfar. Karena sesungguhnya tiga hal tersebut adalah alamat mencapai kebahagiaan.

Ketahuilah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada anda untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya., sesungguhnya al-hanifiyyah , millah Ibrahim adalah peribadatan kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ اْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ ( الذاريات : 56)

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya beribadah kepadaKu (semata)” (Q.S Adz-Dzaariyaat:56).
Lanjutkan membaca “Empat kaidah memahami hakikat kesyirikan (Qowa’idul arba)”

Apakah keluar madzi yang disertai syahwat membatalkan puasa?

[Silsilah Fatwa Puasa Risalah Nomor 59]

Asy Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Baaz rahimahullah

Pertanyaan :

Apabila seseorang berciuman (bercumbuan) dalam keadaan ia sedang berpuasa atau ia menonton sebagian film porno lalu keluarlah darinya madzi, maka apakah (puasanya batal sehingga) dia harus mengqadha puasa?

Jawaban :
Lanjutkan membaca “Apakah keluar madzi yang disertai syahwat membatalkan puasa?”

Haramnya Musik dan Lagu

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Kontroversi tentang musik seakan tak pernah berakhir. Baik yang pro maupun kontra masing-masing menggunakan dalil. Namun bagaimana para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf memandang serta mendudukkan perkara ini? Sudah saatnya kita mengakhiri kontroversi ini dengan merujuk kepada mereka.

Lanjutkan membaca “Haramnya Musik dan Lagu”

Wanita Hamil dan Menyusui yang Tidak Berpuasa Ramadhan, Apakah yang Harus Dilakukan: Mengganti atau Membayar Fidyah?

Secara asal, jika mampu melaksanakan puasa, ibu hamil atau menyusui tetap berpuasa. Namun, jika tidak mampu karena kondisi fisiknya lemah atau mengkhawatirkan kondisi anak (janin atau yang disusui), ada keringanan bagi mereka untuk tidak berpuasa.

Bagaimana jika mereka tidak berpuasa? Apakah mengganti di hari lain atau membayar fidyah?

Permasalahan ini termasuk yang menjadi ranah perbedaan pendapat para Ulama. Hal ini disebabkan tidak adanya dalil yang shahih dan shorih (tegas) dalam alQuran atau hadits sebagai pemutus perkara. Tidak mengherankan jika sulitnya permasalahan ini menyebabkan seseorang bisa berubah pendapat dari satu pendapat ke pendapat lain.

Ada dalil hadits yang shahih dari Nabi, namun tidak shorih (tegas), yaitu hadits:

Lanjutkan membaca “Wanita Hamil dan Menyusui yang Tidak Berpuasa Ramadhan, Apakah yang Harus Dilakukan: Mengganti atau Membayar Fidyah?”